Kamis, 12 Februari 2015

CERITA BERSAMBUNG



MERAH MUDA BULAN FEBRUARI

Kurang setengah jam lagi perjalanan ini akan berakhir. Kulihat jam tangan. Jam 2 pagi. Masih ada banyak waktu untuk mengejar cahaya surya. Kulangkahkan kaki menapaki jalan setapak yang terus saja menanjak. Tanggung rasanya kalau berhenti. Beberapa jam kemudian jalur menanjak itu berakhir. Kujejakkan kaki pada tanah yang cukup lapang. Tidak ada pohon. Tak jauh dari arahku ada bukit setinggi lima meter. Diatas itulah puncak sejatinya. Di sebelah barat tampak pemandangan Gunung Kelud yang sangat cantik. Ya, inilah puncak. Tiba juga aku di puncak Gunung Botak. Kuturunkan ransel dekat bukit kecil. Tanpa banyak membuang waktu kucari tempat yang aman untuk menyalakan kompor. Hari ini cuaca sangat cerah. Bintang tampak berkelip di langit. Menemani bulan yang bersinar penuh. Momen yang sangat jarang dijumpai disini. Kudidihkan air untuk memasak mie instan lengkap dengan tambahan sayur, nasi, dan juga susu. Butuh sekitar satu jam untuk menyelesaikan itu semua. Kulihat lagi jam tangan. Setengah empat. Perlahan kunikmati makanan sembari menyaksikan Gunung Kelud. Hari ini memang tidak ada pendaki lain selain aku. Puncak ini milikku penuh.
Oya, perkenalkan. Namaku Lintang. Lengkapnya Lintang Valentina Febriyanti. Saat ini aku baru saja genap berusia 24 tahun. Setelah lulus SMA aku melanjutkan pendidikan di Malang yang sukses berakhir tahun kemarin dengan gelar sarjana. Beruntung setelah itu aku mendapatkan tawaran untuk menjadi pengajar guru private di sebuah lembaga bimbel. Bulan lalu iseng kumasukkan lamaran menjadi penyiar di radio. Ternyata diterima. Alhasil pekerjaanku adalah guru bimbel dan penyiar radio. Sejak SMA kegiatan mendaki merupakan satu – satunya kegiatan yang kulakukan selain sekolah. Beberapa gunung yang ada di Jawa juga sudah pernah kudaki. Argapura, Bromo, Wilis, Arjuna, dan Semeru. Gunung bagiku adalah tempat terbaik untuk menempa jiwa dan kepribadian. Tempat paling tepat untuk membedah seluruh kemurnian diri. Tidak ada kebohongan di alam. Itu pendapat yang terus kuyakini hingga sekarang. Hal buruknya yang menyeret kakiku sampai disini adalah Yoga. Tepat dua hari yang lalu Yoga mengakhiri hubungan kami. Tiga tahun menjalin hubungan. Tiba – tiba saja dia datang ke rumah hanya untuk mengatakan putus. Dunia rasanya runtuh. Hanya ini yang kupunya. Gunung.
Tanggal 14 Februari harusnya menjadi hari yang menyenangkan. Kuteguk perlahan susu dalam gelas yang kugenggam. Hari ulang tahun yang pahit. Kuraih i-pad kecil di saku kiri. Kutekan tombol play setelah sebelumnya mengenakan headset. Suara Ipang mengalun merdu di telingaku.
“Selamat ulang tahun Lintang,”bisikku pelan. Kupejamkan kedua mata.
“Sorry aku nggak bisa lama…”ucap Yoga begitu duduk di ruang tamu. Dia tampak dingin dan serius. Aku hanya diam saja. Menunggu kalimat selanjutnya. Yoga perlahan mengeluarkan sebuah kotak mungil dari dalam sakunya lalu meletakkan di atas meja,”Ini aku kembalikan.”
Kotak berbungkus warna merah muda itu tidak asing bagiku. Perlahan kubuka, gelang hitam dengan hiasan ukiran naga berplakat aluminium. Gelang ini kubeli saat perjalanan ke Gunung Semeru untuk pertamakalinya. Aku sangat ingat. Gelang ini kuberikan tepat setelah dua bulan kami jadian. Gelang tanda cinta. Pertanda bahwa aku benar – benar siap memberikan hatiku untuknya.
“Kenapa ?”tanyaku heran.
Yoga hanya terdiam. Beberapa menit kami hanya diam. Kutunggu dengan sabar kalimat penjelasan keluar dari mulutnya.
“Kita putus…”ucap Yoga tiba – tiba.
Aku terdiam mendengar ucapan Yoga. Telingaku masih sangat baik untuk mendengar kalimat itu. Semua seakan berhenti tiba – tiba. Tapi cukup mampu untuk menjawab semua perubahan Yoga akhir – akhir ini. Telat jemput, jarang kirim SMS, jarang datang ke rumah, bicara secukupnya, dan bahkan jarang menunjukkan perasaannya.
“Sorry…mungkin aku bukan laki – laki yang tepat…”Yoga berdiri,”Aku pamit…”
Kakiku sangat lemah untuk berdiri. Ingin rasanya aku berkata tidak. Tapi entah kenapa semuanya terasa kelu. Aku ingin sekali ini dibicarakan lagi. Tapi rasanya aku tidak punya keberanian. Mungkin dia bosan. Mungkin aku punya kesalahan fatal. Mungkin aku yang tidak tepat untuknya. Mungkin. Aku tidak tahu kemungkinan apa yang tepat untuk menjelaskan keputusan Yoga. Perlahan air mataku menetes. Semakin lama berubah menjadi isak tangis.
“Mbak…”seseorang menepuk bahuku pelan. Aku terperanjat. Dua orang laki – laki tampak berdiri.
“Eh…dari mana ini ?”tanyaku basa – basi sembari menjabat tangan mereka,”Kata petugas tidak ada yang mendaki hari ini.”
“Iya, kami datang belakangan. Paling setengah jam dari keberangkatan Mbak…”ucap pendaki yang menepuk pundakku.
“Jam berapa sekarang ?”kulihat jam tangan,”Setengah lima. Sebentar lagi.” Kulihat kedua pendaki itu mulai mengeluarkan alat masak. Melakukan hal serupa denganku. Satu per satu kuperhatikan mereka. Sepertinya juga masih muda.
“Oya, nama saya Budi,”ucap pendaki yang menyapaku tadi. Kami kembali berjabat tangan.
“Lintang,”ucapku.
“Farid,”ucap pendaki yang satunya.
Budi dan Farid ini ternyata lulusan sispala dari STMN. Cukup melegakan karena sispala di sekolahku memiliki hubungan yang cukup baik dengan sispala di STMN. Kebetulan keduanya lulusan tiga tahun diatasku. Kebetulan juga mereka bekerja di tempat yang sama. Pegawai bengkel dekat sekolahku.
“Kenapa sendirian ?”tanya Farid.
“Nggak ada yang mau,”jawabku cepat. Padahal faktanya nggak ada yang tahu aku disini.
“O…dalam rangka liburan ya ?”tanya Farid lagi.
“Dalam rangka kabur karena patah hati…” teriakku dalam hati. Aku hanya tersenyum,”Perayaan ulang tahun.”
“O…”keduanya mengangguk paham lalu mengucapkan selamat padaku.
“Sayang sekali…hari ulang tahun malah nggak ada yang mau,”ucap Budi prihatin,”Oiya…tanggal lahir kamu spesial ya…ini kan hari kasih sayang…dirayakan semua orang…”
“Semua pasangan kekasih…”timpalku.
“Ya nggak semualah Tang…kita berdua juga bervalentine…”Farid tertawa melirik Budi yang mengedipkan mata genit padanya.
“Hahahaha…stok perempuan sudah habis ya ?”aku ikut tertawa.
“Budinya ngejar – ngejar terus…gimana dong…nggak tega…”ujar Farid.
“Ah…kamu juga doyan…”
“Gila kalian…”ucapku yang disambut gelak tawa mereka berdua. Walau dalam hati aku menangis, kukeluarkan tangisan hatiku dengan tertawa. Hatiku semakin pilu ketika aku ingat hari ini akan ada jutaan pasangan yang sedang bermesra – mesraan menikmati rasa manis coklat valentine. Mengingatkanku pada Yoga.
***
Pagi itu kami sepakat untuk turun bersama. Setibanya di pos perijinan kami berpisah setelah sebelumnya saling bertukar nomor telepon.
“Oya…aku ada sedikit kenang – kenangan,”ucap Farid. Ia melepaskan salah satu gelang miliknya. Gelang itu terbuat dari benang rajut warna merah muda yang dirajut dengan sangat cantik. Diraihnya tangan kiriku, dengan cekatan ia ikatkan tali gelang itu menggunakan simpul mati,”Semoga bisa berjumpa lagi. Ini pengalaman pertama saya berkenalan dengan perempuan tangguh. Saya siap menjadi sahabat yang baik buat kamu. Selamat ulang tahun.”
Aku hanya terdiam. Keduanya langsung pergi. Seolah peristiwa ini pernah terjadi. Bedanya aku yang memberikan gelang itu dengan kalimat aku siap menjadi kekasih yang baik buat kamu. Gelang itu pun sudah beralih di tanganku sendiri. Berdampingan dengan gelang pemberian Farid. Aku hanya tersenyum pahit.
“Pamit dulu pak,”kulangkahkan kaki meninggalkan pos,”Sampai jumpa lagi alamku.”
***
Malam valentine yang menyesakkan. Aku hanya berbaring di dalam kamar.
“14 Februari itu hari yang istimewa. Mitos yang hidup di kalangan masyarakat menjadikan hari ini adalah hari penuh kasih sayang. Orang yang dilahirkan pada tanggal 14 Februari sudah pasti adalah orang – orang yang lahir dengan watak penyayang. Ada jutaan doa penuh kasih sayang di luar sana. Kamu beruntung. 14 Februari itu Merah mudanya bulan Februari.”
Kalimat Farid kembali terngiang dibenakku. Waktu Budi tertidur dan hanya tinggal kami berdua, Farid berbicara banyak hal padaku. Salah satunya itu.
Dering handphone tanda SMS masuk. Panjang umur. Pemilik nama itu muncul di layar inbox.
From : Farid_Nirwanapala
Hey…ada bnyk coklat disni. Mau join?
Aku tersenyum kecut. Sebelum kubalas, aku baru ingat. Oya, di keterangan kontak dia menggunakan whatsup. Kubuka whatsup. Pakai ini lebih praktis.
Lintang  : g ah. Mls kluar.
Farid    : hehe. Ntr nyesel lho.
Lintang  : never
Farid    : dpt slm dr Budi
Lintang  : waalaikumsalam
Farid    : dpt slm dr Farid
Lintang  : mulai ngaco
Farid    : hahaha…hrsnya waalaikumsayang dong
Lintang  : haha…ngarep
Farid    : kpn lagi
Lintang  : kpn2 aja. Gi dmn?
Farid    : tmpt yg seru abis buat mkn coklat smpe muntah
Lintang  : serius neh
Farid    : duarius
Lintang  : hm…
Farid    : café dekat bonrojo. Sini yuk. Ada Budi. Kenal Citra?
Lintang  : Citra spa?
Farid    : Citra nirwanapala jga
Lintang  : iy knal. Knapa?
Farid    : bntar.
Telepon masuk. Nama Farid tertera di layar.
“Halo…”ucapku.
“Tang…ada yang mau ngomong,”ucap Farid.
“Hai Lintang…”sapa seorang perempuan,”Ini Citra.”
“Hai…apa kabar ?”tanyaku senang. Citra ini sahabat baikku saat di SMA. Kami sering bertemu di acara pecinta alam se-kota. Kami sering pergi bersama.
“Sorry jarang kesana. Baru aja pulang dari Semarang. Sini dong…ada coklat sekardus.”
“Gimana…”tiba – tiba suara Farid muncul lagi,”Aku jemput ya…”
“Aku kesana sendiri aja nggak apa – apa..”
“Yah…persahabatanku ditolak nih..”
Aku terdiam. Tiba – tiba aku ingat. “Saya siap menjadi sahabat yang baik buat kamu.”
“Gimana ?”tanya Farid lagi.
“Oke…tanya Citra, dia tahu rumahku.”
“Sip,”ucap Farid sebelum menutup telepon.
***
“Lintang…dicari teman kamu…”ucap Ibu dari luar kamar. Cepat juga dia sampai. Rumahku memang tidak sulit untuk dicari.
“Hai…”sapa Farid yang sudah duduk di ruang tamu. Dia tampak berbeda malam ini. Dandanan kucel tadi pagi sekarang berubah menjadi gaya anak kota yang cukup…glek…oke…tampan. Kaos putih oblong, celana jeans belel. Sederhana. Wajahnya yang bersih membuat ia memiliki daya tarik tersendiri. Satu kata. Tampan. Hilang sudah predikat pendaki gembel.
“Berangkat yuk…”ucapku.
Kami berdua segera melesat menuju café.
“Aku seneng banget kamu mau gabung. Dari tadi cuman jadi obat nyamuk Citra dan Budi.”
“Kenapa nggak ngajak pacar?”
“Belum ada. Belum punya keinginan. Lebih enak single.”
“Hehe…ntar telat nikah lho…”
“Hahahaha…ini juga udah telat…nggak inget Neng saya umur berapa ?”
“Oiya…kenapa nggak nyari…buruan…”
“Santai…lebih baik terlambat untuk hal yang tepat daridapa hanya tepat waktu tapi salah orang…”
“Iya juga sih…”kulihat lagi gelang hitamku.
“Udah…kalau jodoh nggak kemana…”ujar Farid.
Kualihkan pandangan ke Farid,”Maksud kamu?”
Farid menghembuskan nafas panjang,”Gelang spesial yang terus dilihat berulang kali setiap berbicara tentang hati pasti berkaitan dengan seseorang. Mata kamu itu nggak bisa bohong. Kamu baru patah hati kan?”
Seperti ditampar, aku hanya diam.
“Keren juga, kabur ke gunung secara diam – diam hanya karena patah hati.”
“Buset…nggak kok…”ucapku lirih.
Farid menatap kedua mataku,”Bohong.”
Mobil berhenti. Farid langsung turun. Aku hanya diam mengikutinya dari belakang. Benar juga. Citra dan Budi tengah asyik berduaan. Damn it. Aku baru saja putus. Kenapa pemandangan ini yang harus aku lihat. Café nuansa merah muda, lagu romantis, dan beberapa pasangan yang tengah duduk berdekatan. Aku benci momen hari ini. Seandainya dapat cepat berlalu. Merah muda Februari yang terasa pahit.


LAMARAN ES TELER

Tidak terasa sudah tiga bulan berlalu. Hari – hariku mulai membaik. Persahabatanku dengan Farid, Budi, dan Citra semakin dekat. Sesekali kami bertemu sekedar untuk melepas penat. Farid juga semakin sering datang ke rumah. Persahabatanku dengan Farid juga semakin dekat. Kami berdua sering menghabiskan malam minggu bersama. Obat paling ampuh untuk menolak ajakan Budi dan Citra. Tidak menyenangkan menjadi obat nyamuk. Sore ini Farid baru saja kirim kabar. Bunyinya ini.
Farid    : Aq dpt rejeki nih…tunggu d rmah.
“Hm…kira – kira apa ya ? Pasti makanan,”ucapku lirih.
“Lintang…murid kamu sudah datang…”ucap Bu Anggi.
“Iya Buk,”segera kumasukkan HP ke saku celana. Setelah mengambil beberapa buku, aku segera bergegas menuju ruang belajar.
Pukul lima sore. Waktunya pulang. Kubereskan semua perlengkapan yang berserakan. Muridku juga baru saja dijemput. Aku yakin Farid juga sudah selesai. Tiba – tiba ada SMS masuk. Dari Mbak Astrid manajer radio.
From : Mbk Astrid radio
Lintang kamu jam 5.30 siaran gantiin Fia. Dia sakit. Makasih.
“Duh, mendadak banget. Apa boleh buat. Kalau sampai Mbak Astrid turun tangan berarti sudah nggak ada orang lagi,”kucari nama Farid. Setelah mengetikkan pesan, kulangkahkan kaki keluar ruangan.
***
“Selamat sore kawula muda kota patria…jumpa lagi dengan Lintang disini…lagu Langit Amat Indah by Rita Sita Dewi telah mengawali perjumpaan kita pada sore hari ini. Hm…pas banget dengan suasana langit di sore hari yang cerah ini. Semoga para kawula muda masih tetap semangat untuk menjalani aktivitas selanjutnya,” kukeraskan volume lagu sembari mengambil jeda nafas beberapa detik untuk kemudian kukecilkan kembali volumenya,”Yak…di sore hari yang ceria ini Lintang akan menemani kawula muda selama 60 menit ke depan. Menyajikan deretan lagu – lagu pop indo terbaru dan terhangat. Tak ketinggalan juga beberapa info tentang musisi pop di Indonesia. Buat yang ingin request bisa telfon ke 805789 atau kirim SMS ke 085735799999. Well, habis jeda komersil berikut ini Lintang akan putarkan lagu asyik. Ini spesial Lintang putar untuk sahabat baik Lintang. Have a nice day. Don’t go anywhere...stay tone terus di 98 FM. Acaranya kawula muda…98 jawabannya…”
Beberapa detik setelah jeda komersil playlist musik langsung memutar lagu Lebih Indah by Adera.
***
“Assalammualaikum…”ucapku begitu masuk ke dalam rumah. Rupanya ibu sedang asyik di dapur. Setelah mencium tangan beliau, aku segera masuk ke kamar untuk mengambil baju ganti. Badan gerah akan hilang hanya dengan mandi.
“Bapak baru bisa pulang besok. Tadi titip pesan supaya kamu yang pergi ke rumahnya Mas Erwin buat ambil printer kamu…”ucap ibu sembari menata meja makan.
“Bapak kemana ?”
“Hari ini pergi ke Malang ada seminar sehari bersama guru – guru se-Indonesia.”
“O…”aku berjalan menuju kamar mandi.
“Tadi Farid kesini. Menitipkan sesuatu di kulkas. Katanya nanti malam mau kesini lagi.”
Penasaran kulangkahkan kaki menuju kulkas. Ternyata es teler. Ini nih rejeki yang dimaksud Farid. Kumasukkan kembali ke dalam kulkas lalu berlari kecil menuju kamar.
“Lho…nggak jadi mandi ?”tanya ibu heran.
“Bentar Buk…”aku tersenyum lebar meraih HP di dalam tas,”He…kamu tahu aja…”
Lintang  : Rejeki nomplok ya ?
Beberapa detik kemudian muncul balasan dari Farid.
Farid    : Hehe…bgt…jng dminum dulu. Tngguin aq ya…
Lintang  : Jm brp ksini?
Farid    : hbis ini…lgi jemput kk d tmpt krja
Lintang  : ok…aq mo mandi
Farid    : ok…btw…nice song madam…hahaha…
Lintang  : thanks God…dengerin jga…penggemar nmor satuq msh setia
Farid    : pastilah…see u
Kuletakkan HP di atas meja rias,”Ini hari yang cukup menyenangkan.”
***
Malam ini Farid benar – benar datang ke rumah. Sembari berbincang – bincang, kami berdua asyik menikmati es teler di teras rumah. Tidak lupa Farid menceritakan asal muasal rejeki ini. Ternyata salah satu pelanggannya hari ini adalah teman sekelasnya saat SMP. Cukup lama mereka berbincang – bincang. Sebelum pulang Farid mendapatkan tips yang lumayan. Kebetulan satu – satunya minuman segar dekat bengkel hanya es teler. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli es teler tepat setelah mengirimkan pesan untukku.
“Makanya aku bilang dapat rejeki,”ucap Farid menutup cerita.
“He…lumayan…aku mulai teler nih…”ucapku menirukan logat orang mabuk.
“Hahaha…bisa saja kamu…”Farid hanya tertawa.
“Oya…hari sabtu depan ke Botak lagi yok…”ajakku.
“Boleh…”Farid mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakannya. Dialihkannya pandangan tepat di pergelangan tangan kiriku. Cukup lama ia terdiam.
“Kenapa ?”tanyaku penasaran. Ia hanya diam, menggelengkan kepala sambil mengeluarkan asap.
“Bohong…”ujarku.
“Sampai kapan kamu hidup dengan…,”Farid melirik gelang ditanganku,”Gelang hitam itu ?”
“Kenapa ?”tanyaku lagi. Jujur aku mulai tidak suka.
“Anak mana sih ?”
“Bukan urusan kamu…”
“Sekarang menjadi urusan aku karena aku butuh kepastian,”ucap Farid tegas. Ups, jangan bilang kalau Farid ada hati.
“Jangan bilang kamu…”
“Ya…”jawab Farid lagi.
“Gila kamu…”ucapku tidak tahu harus berbicara apa lagi. Semuanya serba tiba – tiba.
“Kamu benar – benar tidak mengenaliku Tang ?”tanya Farid geram. Ia matikan rokoknya yang masih setengah,”Jujur sebenarnya yang tidak mengenal kamu di gunung hanya Budi. Jauh – jauh hari kita sudah pernah bertemu. Ingat acara Gladian Pecinta Alam saat kamu masih kelas 2 SMA ?”
Aku hanya mengangguk pelan.
“Kamu tidak ingat ada yang menjadi ketua panitia disana. Itu acara yang mengadakan Jaladri. Saya ketua panitianya. Kamu lupa kalau kamu pernah berjabat tangan dengan saya karena kamu menjadi peserta terbaik ?”
Kucoba kembali ke masa lalu. Aku benar – benar lupa dengan wajah ketua panitia waktu itu karena tidak terlalu memperhatikan. Tatapanku hanya tertuju pada Yoga. Farid mengeluarkan selembar foto dari saku celana.
“Ini kamu, ini saya,”jari telunjuknya menunjuk seorang gadis remaja tengah berjabat tangan dengan Farid muda.
“Ya ampun…”kuraih foto itu lalu menyejajarkannya dengan Farid,”Iya ini kamu…sorry…”
“Bukan itu inti pembicaraannya,”nada suara Farid melemah.
“Terus ?”
“Aku suka kamu sejak pertama kali bertemu kamu,”ucap Farid lirih. Tapi cukup jelas di telingaku.
“Selama itu ?”tanyaku dengan nada anak alay.
“Iya…”Farid menggenggam kedua tanganku lembut,”Kasih aku kesempatan Tang…waktu itu aku sebenarnya ingin langsung mendekati kamu…tapi sudah ada Yoga. Kesempatan itu tidak pernah datang. Aku pikir kesempatan itu tidak akan pernah datang. Sampai akhirnya kita bertemu di puncak. Aku ingat gelang yang kamu kenakan itu gelang yang sama persis dengan gelang yang dikenakan oleh Yoga. Gelang itu limit edition. Kebetulan sekali tempat kamu membeli adalah milik kakak sulungku. Melihat cara kamu menatap gelang itu, aku merasa ada kesempatan. Sebenarnya, gelang merah muda itu adalah tawaran untuk menjadi sahabat hati kamu…”
“Hahahahahha…kayaknya kamu teler beneran deh…”aku tertawa keras.
“Sebenarnya kalau kamu minum itu berarti kamu mau menerimaku Tang,”
“What ?!!” teriakku,”He…nggak ada ultimatum juga. Enak aja. Nggak mau…,”aku tertawa lagi,”Kamu ini udah gede…jangan ngaco ah…”
Farid tertawa,”Bercanda Tang…mau nggak ?”
Kami berdua terdiam cukup lama. Hingga akhirnya…
“Tang…sudah malam lho…”teriak ibu dari dalam rumah.
“Aku pamit dulu Tang…”ucap Farid yang terkejut. Baru kali ini dia diusir.
“Eh…iya…”jawabku kaku,”Tunggu dulu. Satu pertanyaan.”
Farid berbalik.
“Pacaran hari gini masih berlaku ya ?”
“Nggak mungkin aku menikah dengan kucing dalam karung. Pencarian untuk mengenal lebih jauh. Kalau cocok ya nikah. Aku sangat tahu kamu. Ini serius.”
“Serius untuk main – main ?”
“Pacaran untuk persiapan nikah gimana ?”
Aku hanya diam.
“Anggap es teler itu lamaran dariku,”ucap Farid sebelum akhirnya berlalu pergi.
***
“Pacaran untuk persiapan nikah…
Ucapan Farid terus terngiang dibenakku. Cukup lama aku terdiam di depan meja rias. Kubuka laci di sebelah kananku. Perlahan kubuka album mini berbentuk hati. Halaman demi halaman penuh dengan momen manis bersama Yoga. Semua masih tetap terasa begitu pahit. Apalagi dia menghilang begitu saja tanpa kabar. Seakan dia lenyap ditelan bumi.
“Sudah tidak ada gunanya lagi mengharapkan kamu,”perlahan kubuka gelang hitam itu lalu kuletakkan diantara halaman album. Kusimpan kembali ke dalam laci. Kuraih HP untuk mengirimkan pesan kepada seseorang.
Lintang  : Es telernya enak bgt. Tp aq gtw apa hdup sama km tu jga enak. Coba dulu yuk.
Lima menit kemudian muncul balasan dari Farid.
Farid    :         Mksih sayank.


AKHIRNYA LINTANG YANG PATAH HATI KARENA YOGA MENDAPATKAN PENGGANTI. FARID. LAKI - LAKI YANG DIAM - DIAM MENYUKAI LINTANG SEJAK GADIS INI MASIH SMA. BAGAIMANAKAH KISAH PERJALANAN LINTANG ? APA BENAR LINTANG BENAR - BENAR SUDAH MELUPAKAN YOGA. USAI KENCAN PERTAMA LINTANG KEMBALI BERTEMU DENGAN YOGA. TIBA - TIBA ADA BERITA BESAR YANG MENGGOYAHKAN HATI LINTANG> BERITA APA ITU ? NANTIKAN EPISODE SELANJUTNYA. BERSAMBUNG.
Posting Komentar