Rabu, 25 Februari 2015

CERITA BERSAMBUNG BAGIAN KEDUA

Hai kawan...masih ingat dengan postingan CERITA BERSAMBUNG yang kemarin...ini dia lanjutannya. Sebelum baca aku ingetin lagi sedikit tentang cerita yang kemarin.

LINTANG, SEORANG GADIS DENGAN BAKAT MULTITALENTA HARUS MENGHADAPI KENYATAAN BAHWA IA DIPUTUSKAN YOGA TANPA ALASAN YANG JELAS. IA PUN MELAMPIASKAN KESEDIHANNYA SAAT IA BERULANG TAHUN DENGAN NEKAT NAIK GUNUNG BOTAK SENDIRIAN. DISANA IA PUN BERTEMU DENGAN FARID. SOSOK LAKI - LAKI YANG PERLAHAN MAMPU MEMBUAT LINTANG BERKATA IYA UNTUK MENERIMA CINTANYA. BAGAI MANA KISAH SELANJUTNYA....BACA INI....




KENCAN PERTAMA

“Hahahahahahaha…oke sekarang giliranku,”ucapku bersemangat. Perlahan kugerakkan badanku semakin merendah. Berusaha sefokus mungkin. Perlahan namun pasti batang paku yang tergantung tali yang diikat di pinggangku terus bergoyang. Aku terus berusaha memasukkan paku itu ke dalam botol. Akhirnya, masuk juga.
“Hahahaha…kamu kalah…”Farid menunjukkan stopwatch. Lebih lambat 5 detik darinya,”Siap – siap…traktir gue makan ya…”
Hari ini kami baru saja melewatkan momen matahari terbit di puncak botak bersama – sama. Kebetulan hari ini cukup banyak yang mendaki. Puncak lumyan rame. Kami juga sempat berbincang – bincang dengan mereka. Harapan untuk duduk berdua di puncak pupus sudah. Tapi bukan masalah bagi kami.
***
“Kamu mau pesen apa ?”tanyaku begitu sampai di warung.
“Sama aja deh…”jawab Farid. Ia tengah asyik menghirup asap rokok yang baru saja ia nyalakan. Sepertinya menjadi tantangan tersendiri untuknya hari ini. Setelah berjanji selama pendakian hingga warung makan tidak menyentuh rokok, rasa candu yang terus menyerangnya sudah teratasi. Eits, ini hanya seru – seruan saja. Aku tahu dia tidak mau berhenti merokok. Tapi kalau bonusnya sehari penuh bersamaku, dia langsung mengangguk.
“Menu nasi pecel lele dan segelas teh hangat…”aku melihat raut kecewa darinya,”Untuk Lintang. Untuk kamu segelas kopi.”
Farid langsung tersenyum mengusap kepalaku,”Makasih sayang…”
***
Malam ini kami berdua menghabiskan waktu di cafĂ©. Sembari menikmati musik romantis, kami lewati malam ini dengan berbincang – bincang. Sesekali Farid memegang tanganku lembut. Ia tampak bahagia malam ini. Aku cukup lega karena malam ini aku berhasil membuat laki – laki yang mencintaiku ini tersenyum bahagia.
“Aku punya sesuatu buat kamu,”Farid berlari ke mobil. Tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah gitar,”Aku punya lagu spesial buat kamu.”
Perlahan ia mulai menyanyikan lagu Always Be My Baby milik David Cook .
Malam yang sangat romantis. Sepertinya hatiku semakin mantap. Kalau aku sudah menemukan pengganti Yoga.
“Gimana ?”tanya Farid mengakhiri lagunya.
“Keren banget…makasih ya…”ucapku tulus.
Farid meletakkan gitarnya di kursi. Ia tersenyum lega.
“Udah malam…pulang yuk,”ajakku.
“Oke…”
Saat masuk mobil terdengar bunyi SMS dari HPku. Dari nomor tak dikenal. Farid tampak tenang menyalakan mesin. Sembari mengenakan sabuk pengaman kubuka pesan itu.
From : 0857389XXXXX
Tlp gw. Pnting. Arka.
Nama ini tidak asing. Tumben. Melihat perubahan wajahku Farid bertanya,”Siapa yank ?”
“Ibu…nyuruh pulang,aku balas dulu ya,”ucapku gugup. Setelah memastikan nomornya kusimpan, SMS itu aku hapus. Perlahan kupandang wajah Farid. Untung saja dia tidak curiga.
***
Malam semakin larut. Kubuka kontak milik Arka. Ragu untuk menghubungi dia. Arka ini sahabat baik Yoga. Keberadaan Arka juga menghilang bersamaan dengan kepergian Yoga. Daripada terus menerka – nerka, lebih baik aku turuti permintaan Arka. Tidak lama setelah kutekan tombol telepon terdengar suara Arka dari seberang.
“Kenapa Ka ?”tanyaku tanpa basa – basi.
“Kamu jangan pernah cerita siapapun soal ini,”jawab Arka,”Aku butuh bantuan kamu sekarang.”
“Bantuan apa ?”aku jadi gugup.
“Besok jam 9 pagi aku ke rumah kamu ya…”ucap Arka,”Jangan sampai ada yang tahu. Ingat, aku tunggu di luar. Begitu sampai langsung masuk mobil. Oke ?”
“Memangnya ada apa ?”
“Ini penting. Susah jelasinnya. Harus ketemu. Ini soal Yoga.”
“Kenapa Yoga ?”tanyaku kaku.
“Kamu ingin tahu kenapa dia memutuskan kamu tiba – tiba ?”
“Iyalah…”serasa adrenalinku meningkat.
“Kalau kamu ingin tahu, turuti apa kataku.”
“Oke…” telepon terputus.
Pembicaraan barusan membuatku susah memejamkan mata. Kubuka fotoku bersama Farid. Padahal baru malam tadi kami berkencan. Semuanya mendadak berubah hambar.
“Kita putus…
Kalimat terakhir Yoga kembali terngiang di benakku berulang – ulang. Hari kencan pertama. Membuatku bahagia. Tapi ternyata harus kututup dengan pembicaraan yang menyeretku pada kenangan bersama Yoga. Kencan pertama yang istimewa berubah menjadi hambar.
“Kamu dimana ?”tanyaku lirih bersamaan dengan terpejamnya kedua mataku.


GUDANG TUA

Pagi itu sesuai janji Arka menjemputku dan membawa ke sebuah gudang tua yang aku tidak tahu dimana. Saat masuk mobil Arka memintaku menutup mata. Semua serba menakutkan. Awalnya aku menolak. Setelah Arka berjanji akan menjamin keselamatanku, akhirnya aku mengikuti permintaan dia.
“Kita ngapain di sini ?”tanyaku begitu turun dari mobil. Penutup mata sudah kulepas saat mesin mobil berhenti.
“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu,”Arka mempersilahkanku duduk di kursi kayu yang berada di tengah ruangan. Ada empat kursi yang mengelilingi meja kayu berbentuk segi empat. Di atas meja terdapat empat botol air mineral, roti tawar, dan selai coklat dan keju.
“Siapa ?”tanyaku.
“Tunggu sebentar lagi, nanti juga datang…”Arka duduk tepat di depanku. Ia mengambil roti, mengolesinya dengan selai,”Makan dulu gih.”
Tanpa rasa canggung kuambil juga roti di atas meja.
“Kak Arka…!!!”panggil seorang perempuan dari belakang. Tampaknya dia baru datang. Melihat kehadiranku dia tampak lega sekali,”Ini pasti Kak Lintang.”
“Iya…”ucapku.
“Saya Intan…”ucapnya lembut,”Terima kasih sudah mau datang kesini.”
“Oke…aku butuh penjelasan kalian…ada apa memintaku datang kesini?”
Intan mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Setelah mengambil nafas panjang, ia pun mulai berbicara.
“Sebelumnya saya minta maaf. Atas nama Yoga saya minta maaf. Tapi saya dan Yoga tidak punya banyak pilihan. Yoga bicara apa saat terakhir kali bertemu?”
“Jadi kalian memintaku jauh – jauh datang kesini hanya untuk menanyakan ini?”
“Kakak tahu kenapa Yoga ingin putus?”
“Urusannya apa sama kamu?”bentakku semakin keras.
“Kakak jawab dulu…”
“Oke…aku tidak tahu. Dia hanya mengembalikan gelang lalu minta putus…”lebih baik kujawab dengan cepat biar cepat pulang,”Lagipula ini sudah tidak penting lagi. Aku sudah punya pasangan lain.”
“Siapa?”tanya Arka.
“Udahlah nggak penting…aku yakin kamu pasti tidak kenal.”
“Jawab saja,”bentak Arka tiba – tiba. Membuatku terkejut.
“Jawab kak…please…”
“Farid…alumni Nirwanapala…”
Arka dan Intan tampak terkejut.
“Dugaanku tidak meleset…”bisik Arka.
“Maksud kamu ?”tanyaku curiga.
“Aku jelaskan, posisi kamu dalam bahaya. Lebih baik kamu putusin si Farid,”ucap Arka.
“Enak aja…”bentakku emosi,”Menghilang tiba – tiba, muncul tiba – tiba juga, menyuruh seenaknya. Siapa kalian ?”
“Farid itu bukan laki – laki yang baik. Dia bermaksud untuk menjual kamu. Dia itu Bandar narkoba sekaligus penjual manusia. Prostitusi Lintang…”ujar Arka.
“Jangan ngawur kamu…”bentakku semakin keras.
“Saya juga salah satu korbannya kak. Tapi saya selamat. Oya, kakak belum tahu saya. Yoga itu kakak kandung saya. Setahun yang lalu saya juga sempat dekat dengan Farid. Suatu hari saya diajak pergi ke taman. Disana saya dibius. Saya sempat ditahan di sebuah rumah. Saat terbangun saya mencoba mencari keberadaan Farid. Sayup – sayup saya mendengar suara Farid sedang berbicara dengan seseorang di teras, entah firasat apa yang menyuruh saya untuk merekam pembicaraan mereka…Ini rekamannya…”Intan menyerahkan HP miliknya.
Tampak sangat jelas Farid tengah berbicara dengan laki – laki paruh baya.
“Kamu yakin dia masih perawan ?” tanya laki – laki tua pada Farid.
“Yakin 100%. Anak bau kencur ini baru pertama kali pacaran sama saya. Saya jamin aman dan puas…”ucap Farid.
“Ini uang dan barang yang saya janjikan…”laki – laki itu menyerahkan dua bungkus amplop coklat.
“Ini kuncinya. Ada apa – apa panggil saja. Saya ada di mobil,” Farid pun berlalu pergi.
Video pun berhenti.
“Lalu apa yang terjadi ?”tanyaku penasaran. Walau sekarang jantungku berdegup lebih kencang.
“Saya langsung berlari mencari pintu belakang. Tapi ternyata juga dikunci. Bertepatan dengan itu laki – laki itu sudah berdiri di belakang saya. Secepat kilat saya berusaha mencari sesuatu untuk perlindungan diri. Kebetulan di samping kanan saya ada balok kayu. Nekat saya pukul laki – laki itu tepat di kepalanya. Ia langsung jatuh berlumuran darah. Tanpa menunggu waktu saya berlari keluar rumah. Rupanya Farid melihat saya. Dia pun mengejar saya menggunakan mobil. Saya berlari semampu saya.
Intan berlari ketakutan. Melihat bak sampah yang cukup besar ia pun segera masuk ke dalam bak sampah itu. Tak lama terdengar suara deru mobil milik Farid. Sembari terisak – isak Intan mengeluarkan HP miliknya. Mencoba memberi pesan pada Yoga. Sayangnya terlambat. Keberadaan saya telah diketahui oleh Farid. Saya pun diseret keluar.
“Sejak saat itu saya ditahan di sebuah rumah pelacuran. Tepat malam itu Farid menyetubuhi saya. Malam – malam berikutnya saya pun terpaksa menjadi pelacur,”Intan mengusap air matanya,”Tiga bulan akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menulis pesan permintaan bantuan. Beruntung Farid tidak tahu kalau Yoga kakak kandung saya. Dengan membawa beberapa intel, Yoga berpura – pura menjadi pelanggan. Ia meminta saya yang melayaninya. Waktu itu Kak Arka terpaksa menunggu di mobil. Wajahnya sudah dikenali oleh Farid. Musuh bebuyutannya Farid. Akhirnya, rumah itu berhasil digrebek polisi. Tapi Farid berhasil kabur. Beberapa minggu kemudian tiba – tiba saja kasus itu ditutup. Belakangan saya tahu kalau Farid berhasil menyogok orang dalam. Dia pun bebas begitu saja. Tepat tiga bulan sebelum kalian putus, Farid berhasil menculikku kembali. Hampir gila mereka berdua mencari keberadaanku. Selama ditahan aku terus dipaksa menjadi pelacur…”
“Kami kebingungan mencari keberadaan Intan. Waktu itu Yoga tidak menceritakan keberadaan Intan ke kamu karena dia juga memang belum siap untuk memperkenalkan keluarganya,”sambung Arka.
“Sampai suatu ketika saat saya dan Farid tengah menunggu pelanggan di restoran, Farid melihat kakak yang tengah asyik menyantap makan siang bersama Yoga. Sebelum saya berhasil memanggil Yoga, Farid langsung membius saya dan membawa pergi sebelum Yoga sempat melihat keberadaan kami.”
Malamnya Farid bertanya tentang kakak. Saya hanya menjawab itu pacarnya. Tidak lama kemudian dia menghubungi Yoga,”Kamu mau bebas bukan ? Saya mau mengejar cinta pertama saya…kalau jodoh pasti juga bertemu.”
“Mau apa lagi kamu ?” tanya Intan pasrah.
“Ambil pacar kakak kamu lalu bebasin kamu…ngerti ?”ucap Farid.
Arka menghembuskan nafas panjang,”Malam itu Yoga diminta untuk memutuskan kamu dan dijamin Intan pulang dengan selamat.”
“Malam harinya setelah memutuskan kakak, saya dipertemukan dengan Yoga. Malam itu Yoga tidak datang sendiri. Dia diawasi oleh kaki tangannya Farid. Rencananya kami ingin menangkap Farid dengan tuduhan penyalahgunaan narkoba saja. Sejak penangkapan pertama Farid hanya menjual saya dan berdagang narkoba saja. Pelacurnya dibekuk semua. Kami semua lega mengetahui kediaman Farid dibekuk,”ucap Intan lagi,”Tapi, seminggu yang lalu Kak Arka melihat kakak berduaan dengan Farid. Hal ini membuat kami semua tahu kalau ternyata orang yang dibekuk polisi hanya anak buahnya saja.”
“Terus…”aku menelan ludah,”Yoga mana ?”
“Yoga tidak siap bertemu kakak. Dia sedari tadi hanya menunggu di mobil,”ucap Intan lirih.
Kutekan tombol pemanggil. Terdengar nada telepon diterima.
“Pengecut…sini kamu…”isakku.
Tak lama kemudian tampak laki – laki berlari kearahku. Yoga berlari memelukku.
“Kenapa kamu diam saja ?”isakku langsung pecah dalam pelukan Yoga.
“Sorry yank…”isak Yoga,”Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Semuanya kacau. Intan adikku satu - satunya. Aku minta maaf. Jujur aku sayang banget sama kamu…”
Seolah beban sebesar gunung terlepas dari pundakku. Semuanya terasa jelas. Kami pun berpelukan erat.
Gudang tua ini menjadi saksi apa yang harusnya aku tahu. Apa yang masih kumiliki, dan yang terpenting adalah langkah selanjutnya.


MENYELUNDUP

Siang itu Arka mengantarku pulang. Setibanya di rumah aku hanya terdiam di kamar. Mencoba untuk mencerna semua kejadian satu per satu. Perlahan kubuka laci tempat kusimpan album kenangan bersama Yoga.
“Aku nggak nyangka akan menjadi seperti ini…”isakku pelan,”Tapi aku lega banget karena kamu masih mempunyai cinta untuk aku. Janji, aku akan bantu kamu.”
Tok tok tok…
“Tang…ada Farid…,”ucap ibu dari luar.
Seperti tersengat listrik,”Aduh gimana ini…aku lupa ada janji pergi ke toko buku…gimana ya ?”
***
“Hai sayang…ucapku lemah,”aku duduk disamping Farid. Laki – laki itu tampak cemas melihat perubahan wajahku yang lebih pucat.
“Kamu sakit ?”tanyanya cemas. Dahiku ia sentuh pelan,”Agak hangat sih. Pantas keluarnya lama. Kamu pake balsam ya ? Ke dokter yuk…”
“Udah kok…tadi pagi…makanya aku nggak kabar – kabar ke kamu. Takut khawatir. Mendingan ketemu langsung. Biar kamu juga lega. Aku isirahat aja ya…”
“Iya deh…aku pulang dulu. Besok aku kesini…”Farid mengecup bibirku sebelum akhirnya pamit.
Aku langsung bernafas lega begitu mobil Farid meninggalkan halaman rumah. Tanpa basa – basi aku berlari masuk kamar. Untung saja punya pengalaman teater. Tadi aku pake powder tebel banget terus aku haluskan dengan bedak agar tidak terlihat kalau ini make up. Terus tidak lupa pakai lipstick warna pucat. Tambahannya aku lompat – lompat dulu sampai suhuku naik. Make up milikku anti air. Jadinya kena keringat nggak akan luntur. Begitu keluar kamar tinggal percantik dengan akting gaya orang sakit.
***
Malam hari tiba. Baru saja mematikan lampu. Terdengar bunyi telepon.
“Hai sayang…”jawabku senang.
“Bukain jendelanya dong…ibu udah tidur kan?”
Kubuka jendela kamar. Tiba – tiba Yoga melompat masuk. Membuatku hampir berteriak. Secepat kilat ia membekap mulutku,”Nggak ada pilihan lain. Kamu juga dibawah pengawasan Farid.”
Buru – buru kututup jendela setelah memastikan semuanya aman.
“Tenang saja, aku yakin kaki tangan Farid tidak melihatku tadi…”Yoga menatapku lama,”Aku merindukanmu…”
Kalimat itu seperti tetesan air di gurun sahara. Perlahan Yoga menarikku kedalam pelukannya. Kebahagiaan itu datang lagi. Kehangatan yang selalu kurasakan.
“Malam ini aku ingin menemani kamu…Jam 4 baru aku pulang…”bisik Yoga,”Boleh kan ?”
Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Perlahan wajah kami semakin dekat. Bibir Yoga mengecup bibirku pelan. Kamipun saling berpagut. Penuh cinta. Penuh kerinduan.
“Gelang dari kamu jangan pernah berpindah tangan. Sampai waktunya tiba aku akan ambil. Kita pasti menikah sayang…”bisik Yoga tegas.
“Serius ?”tanyaku. Ia mengangguk. Ini adalah hal yang ingin aku dengar. Hidup bersama Yoga. Cinta pertamaku. Kami kembali berciuman.
Malam ini Yoga tidur di ranjang bersamaku. Ia memelukku dengan mesra.
“Aku gagal menjaga adikku…jadi aku tidak akan pernah membiarkan kegagalan yang kedua kalinya…menjaga orang yang aku cintai,”Yoga mengambil nafas,”Dan itu kamu sayang.”
Aku tersenyum menatap kedua matanya yang teduh,”Aku juga sayang kamu.”
“Oya…seberapa dekat kamu mengenal Farid ?”tanya Yoga,”Seberapa jauh hubungan kalian ?”
“Farid hadir sebagai sosok sahabat yang sangat perhatian. Dia sangat baik. Sangat pintar membuatku untuk melupakan rasa sakitku karena kepergian kamu. Sejak perkenalan pertama dia tidak pernah absen datang ke rumah. Sekali dua kali aku juga berkunjung ke tempat kerjanya,”
“Ke rumahnya ?” potong Yoga.
Aku menggelengkan kepala,”Mungkin dalam waktu dekat ini. Karena dia berniat untuk mencari pasangan hidup.”
“Itu sebabnya kamu mau menerima Farid ?”
“Iya…karena aku melihat kesungguhannya dan juga kebaikannya…”
“Oke…ceritakan lebih banyak lagi tentang Farid…”
Malam itu kuceritakan semua hal yang kutahu. Mulai dari karakter, kebiasaan sehari – hari, sampai tempat – tempat yang sering kami datangi berdua.


MENCARI BUKTI

Semua perkataan Yoga semalam masih terus terngiang. Semua kejadian di gudang tua kemarin juga terus menghantui pikiranku. Tiba – tiba saja rasanya baru kemarin Yoga duduk di ruang tamu mengembalikan gelang dan minta putus. Rasanya baru tadi malam Farid duduk di teras menyatakan perasaannya. Semua terasa kacau.
“Farid…”bisikku pelan.
“Nasi gorengnya nggak enak ya ?”tanya ibu pelan.
“Eh…,”aku terperanjat,”Enak kok…”
“Dimakan dong…”ucap ibu.
“Iya…”aku hanya tersenyum lalu melanjutkan sarapan.
***
“Selamat pagi sobat radio…jumpa lagi dengan Lintang disini…buat yang sedang beraktivitas…selamat menjalankan aktivitasnya dengan semangat…Selama 2 jam kedepan Lintang akan menemani sobat radio semuanya dalam acara Cerita Kita…dalam dunia ada kita…diantara kita ada sejuta cerita…,”kuputar musik jingle sebagai jeda,”Hari ini Lintang kedatangan tamu yang spesial banget buat kita semua disini…bla bla bla…”
Dua jam berikutnya…
“Terima kasih sudah bersedia datang…”ucapku saat menjabat tangan bintang tamu hari ini. Ia pun berlalu pergi.
“Lintang…!!!”teriak seseorang dari luar. Tampilan casual yang selalu membuatku terpikat tampak berbeda bagiku. Setelah aku tahu semua. Farid.
“Hai…”aku berjalan menghampirinya. Semoga semuanya baik – baik saja.
“Senang melihat kamu sehat sayang…”Farid mendaratkan ciuman di bibir.
“Ini tempat umum Farid…”bisikku padanya.
“Hehehe…sorry…”Farid tersenyum ceria,”Makan yuk…habis itu aku antar kamu ke tempat bimbel. Tidak bawa mobil kan ?”
Kuperlihatkan kunci mobil milikku.
“Oke, tinggal saja disini.”
“Aku ambil tas dulu…”aku berjalan cepat masuk ke kantor. Aku harus melakukan sesuatu. Tanpa banyak menunggu waktu kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Ini tempat yang paling aman. Kukeluarkan HP lalu menekan tombol telepon.
“Halo…kenapa sayang ?”terdengar suara Yoga dari seberang.
“Aku akan keluar makan siang dengan Farid,”ucapku gugup.
“Tenang…bersikap biasa saja…jangan mencurigakan…SMS tempatnya…nanti aku dan Arka akan pantau dari jauh…”ucap Yoga.
“Oke…”
***
“Lama sekali…”keluh Farid begitu melihat aku berjalan menghampirinya.
“Sorry…tadi ke kamar mandi dulu…”
Kami berdua pun meluncur ke restoran terdekat. Begitu tahu tempatnya, diam – diam saat Farid tengah sibuk memesan makanan kukirimkan pesan untuk Yoga.
“Kamu tampak aneh hari ini…”komentar Farid tiba – tiba. Membuatku semakin gugup.
“Apanya yang aneh ? Biasa aja ah…”aku tertawa kecil,”Ayo makan lagi.”
“Besok kan sabtu…ke kebun teh yuk…sekalian muncak lagi deh,”ajak Farid.
“Aduh…kayaknya nggak…”bunyi SMS memotong pembicaraanku. SMS dari Yoga,”Bentar ya…”
From : Yoga
Bersikap biasa aja. Jngn mencurigakan gitu.
“SMS dari siapa ?”tanya Farid.
“Dari ibu…nitip beliin minyak goreng…”ucapku asal.
“O…,”Farid menyalakan rokok,”Gimana sayang…”
“Lain kali aja ya”ucapku sembari menggengam tangan kanannya,”Kebetulan mulai hari ini aku dapat proyek baru…”
“Proyek apa ?”
“Ya... kebetulan hasil rapat tadi rencananya radio mau bikin acara baru… acara drama bersambung…kebetulan untuk naskah aku yang dapat bagian untuk nulis…”aku tersenyum manja walau dalam hati ingin muntah,”Boleh kan kalau ditunda lain kali. Kayaknya juga nggak dalam waktu dekat ini deh…”
“Oke deh…nggak ada masalah buatku…”Farid mengecup telapak tanganku,”Selamat sayang…”
“Selamat peras otak maksudnya ?”aku tertawa.
“Hehehe…selamat untuk apa aja deh…”Farid yang sebenarnya tampak curiga daritadi mulai terlihat seperti biasa lagi. Ia tersenyum senang,”By the way temanya apa ?”
“Bingung nih…maunya aku ngangkat masalah sosial yang ada pesan moralnya. Radioku kan pendengarnya anak – anak muda. Masalah sosial yang seputar anak muda gitu. Ada tiga topik menarik yang aku punya. Masalah peredaran narkoba di kalangan anak SMA, masalah penjualan manusia, atau masalah cetek yaitu soal asmara…”
Farid terlihat memberikan reaksi yang kuharapkan. Gugup dan berusaha untuk menyembunyikannya. Satu bukti mulai terlihat.
“Menurut kamu lebih bagus yang mana ?”
“Apa ?”laki – laki itu terbatuk.
“Menurut kamu tema mana yang kira – kira menarik dari tiga tema yang aku sebutin tadi ?”
“Menarik semua kok…”
“Hm…sebenarnya aku lebih tertarik untuk meneliti tentang peredaran narkoba aja. Kebetulan di berita kan juga sempat marak. Jadi tema ini masih cukup hangat untuk dibicarakan. Lagian aku juga tahu salah satu tempat yang diduga sering terjadi transaksi disana. Sempat muncul di koran. Tapi tempatnya sudah digrebek. Dekat taman makam pahlawan. Tahu nggak ?”
Farid hanya terdiam. Mendadak raut wajahnya memucat. Aku tahu kamu pasti ingat sesuatu. Kubiarkan dia terdiam beberapa detik. Aku pura – pura sibuk dengan HP ditanganku.
“Tahu kan ?”tanyaku setelah beberapa detik dia tetap terdiam.
“Tahu kok…itu kan besar kasusnya…”Farid meraih kunci di atas meja,”Cabut yuk…”
“Udah kelar ?”
Farid bangkit meninggalkan restoran,”Aku ada urusan…”
“Oke…”aku berjalan di belakang. Kali ini permainan berbalik. Tersangka tengah menutupi kegelisahannya. Diam – diam kuedarkan pandanganku ke penjuru ruangan. Cukup lega juga melihat keberadaan Yoga yang duduk di sudut ruangan. Pintar juga mengambil tempat yang tidak terjangkau pandangan Farid dari tempat ia duduk.
“Kamu mau menemani aku ke tempat lokasinya kan ?”tanyaku begitu masuk mobil.
“Ngapain ?”Farid menatapku tajam.
“Kok marah sih ?”
“Kalau minta jangan aneh – aneh…bahaya…nggak ada yang tahu tempat itu masih aman atau nggak…aku malas terlibat masalah yang mengancam keselamatan…mendingan ambil topik terakhir aja. Asmara. Lebih aman.”
“Iya bener. Asmara. Asmara yang ternyata cowoknya pengedar narkoba dan juga penjual pelacur. Pas banget tuh. Dapat tiga – tiganya.”
Farid menatapku tajam. Aku hanya menatapnya dengan muka lugu.
“Kenapa sayang ?”
Laki – laki itu menatap ke depan. Ia melajukan mobil tanpa suara.
“Kamu marah ya ?”tanyaku begitu sampai di stasiun radio.
“Nggak kok…”
“Kok diem ?”
“Nggak ada apa – apa…aku cuman…”
“Kenapa ?”
“Nggak…lagi pusing…aku ke tempat kamu besok aja ya ?”Farid menyalakan mesin. Aku segera turun. Sedetik kemudian ia melambaikan tangan dan pergi.
Tanpa menunggu waktu lagi aku segera meraih HP. Mengirimkan SMS pada Yoga untuk mencari tahu keberadaannya. Begitu mendapat balasan aku segera meluncur kesana.
***
Keadaan masih belum aman. Kami terpaksa memilih tempat yang terpencil untuk bertemu. Kemarin di gudang tua. Hari ini kami bertemu di pabrik milik keluarga Arka yang sudah tutup karena bangkrut.
“Sorry lama,”ucapku. Yoga, Arka, dan Intan hanya tersenyum sebagai tanda permakluman. Kuceritakan ketakutanku selama bertemu dengan Farid.
“Oke, sebenarnya kami bertiga udah punya bukti kuat. Sebenarnya selama seminggu terakhir ini kami juga mengirim mata – mata untuk mengawasi Farid. Kami dapat data tentang dia. Sekarang tinggal langkah selanjutnya. Kita cari bukti kejahatan polisi yang menjadi tameng Farid,”ucap Arka mengawali pembicaraan.
“Benar juga…tapi gimana caranya ?”tanya Intan.
Kami berempat hanya duduk terdiam. Bagaimana caranya aku juga belum tahu. Kalau kita ingin mengetahui kedalaman air berarti harus menyelam. Harus masuk ke dalam air itu. Berarti…aku tahu.
“Guys…aku punya rencana. Trust me…kali ini biarkan aku yang bertindak…”ucapku yakin.
“Rencana apa ?”tanya ketiganya kompak.
“Aku akan pura – pura melanggar hukum. Minimal harus sampai masuk penjara. Setidaknya buat Farid percaya kalau aku butuh bantuan hukum. Pasti dia akan kasih bocoran siapa saja yang bisa membebaskan dia…”
“Gila kamu…”bentak Yoga.
“Ini satu – satunya cara untuk mencari bukti…”ucapku.
“Pikirkan cara lain…”Arka juga tampak tidak setuju.
“Memangnya kamu mau ngapain ?”
“Bawa bungkusan ganja. Gimana ?”ucapku. Ketiganya tampak tidak setuju denganku. Tapi aku nggak nyerah,”Aku pastikan semuanya aman. Percaya, kamu mau hidup tenang kan Intan ?”
Intan hanya terdiam.
“Kali ini kita akan mencari bukti berdasarkan caraku…”ucapku tegas.
Yoga hanya pasrah. Otaknya sudah buntu. Arka juga. Berarti semua setuju. Aku tersenyum. Waktunya untuk bertempur.

 

Akhirnya Lintang tahu alasan kenapa Yoga pergi meninggalkan dia. Lintang akhirnya juga tahu siapa sebenarnya Farid. Hal ini membuat Lintang bersedia untuk kembali ke pelukan Yoga. Selain itu Lintang juga terpanggil untuk ikut membantu menyelesaikan permasalahan Yoga dan Intan. Mencari bukti agar bisa menjebloskan Farid ke penjara. Bukti kejahatan selanjutnya yang harus dicari adalah bukti kerja sama farid dengan polisi. Kali ini keempatnya sepakat menggunakan cara Lintang. Apakah berhasil ? Nantikan di kisah selanjutnya.

Posting Komentar