Kamis, 15 Mei 2014

KARTINI JUNGLE SURVIVAL BASIC COURSE 2014


Foto Bersama
Peringatan hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2014 kemarin merupakan hari yang sapagt spesial buatku. Bahkan, aku yakin. Memori yang tecetak selama lima hari di Cibodas ini juga melekat di benak semuanya. Aku dan 23 perempuan – perempuan tangguh pecinta alam se – Indonesia menempa pendidikan bagaimana bertahan di gunung. Yup, Kartini Jungle Survival Basic Course 2014 membawaku pada satu hal yang membuatku berkata,”Keinginanku terwujud.” Maklum, ini adalah keinginan yang tercetak sejak aku masih duduk di bangku SMA kelas XI. Baru bisa terwujud sekarang. Kartini Jungle Survival Basic Course (KJSBC) 2014 ini merupakan salah satu program pelatihan tentang cara bertahan di hutan oleh Yayasan Survival Indonesia. Kegiatan ini tampak spesial banget karena hanya perempuan yang menjadi pesertanya.
Hari pertama dimulai dengan kegiatan belajar di kelas. Pembekalan teori untuk memantapkan pengetahuan sebagai salah satu modal untuk bertahan di alam. Sangat menyenangkan karena penyampaian materi tidak terlalu bertele – tele, jelas, padat, pastinya mudah dimengerti. Di sini pula kesempatan kami untuk saling berkenalan satu sama lain. Oya, tentu saja sebelumnya acara dibuka dengan upacara pembukaan. Pemimpin upacara dari Metro TV. Panggil saja Asri. Ini adalah salah satu presenter yang turut menjadi peliput acara KJSBC ini. Metro TV mengirim dua acara. Jalan – jalan Asyik (Asri) dan 360 (Loli). Dari TRANS TV, SCTV, juga DAAI Indonesia juga turut bergabung meliput kegiatan ini. Hm…lebih besar dari yang kukira. Kegiatan materi di kelas berlangsung selama satu hari penuh. Kami mengikuti kegiatan materi di kelas hingga larut malam. Acara ditutup dengan nobar hasil liputan dari Metro TV tahun lalu. Dari sini aku dan teman – temanku mendapatkan gambaran lebih jelas seputar kegiatan apa saja yang akan kami jalani besok di hutan. Secara otomatis, mental kami juga semakin siap melaksanakan kegiatan.
Hari kedua. Pagi yang kami nantikan. Aku yang kebetulan ditunjuk sebagai DANLAS (Komandan Laskar) sekaligus sebagai DANRU (Komandan Regu) I berantusian meneriakkan salam khas kami ketika langkah kaki telah memasuki hutan. “Jungle Survival…” Seluruhnya menjawab “Kartini” kuteriakkan lagi,”Masih semangat..!!” mereka pun menjawab masih. Suasana ceria menghiasi langkah kami. Tibalah di tempat pertama. Belajar membuat api dan cara mendapatkan air. Hahaha….cukup susah dan membutuhkan waktu lama. Beberapa dari kami berhasil. Saya termasuk yang gagal membuat api dengan lensa (matahari kurang), untuk menggunakan busur burdi belum sempat (waktu habis), dan berhasil dengan menggunakan pemantik (horeeeee….) Lanjut menuju ke tempat berkemah. Mendirikan bivak dari ponco atau fly sheet. Hujan turun membasahi area kami mendirikan tenda. Medan yang memiliki kelembapan sangat tinggi membuat kondisi tanah becek seperti lumpur di sawah. Semangat kebersamaan membuatku dan kawan – kawan terus berusaha mendirikan tenda. Malamnya, ditutup dengan evaluasi dan jalan – jalan ke alam mimpi.
Senam pagi
Hari selanjutnya masih tetap menjadi hari yang terus bersemangat. Mengawali dengan senam pagi. Lalu, belajar tentang cara membuat jerat. Untuk satu ini kami tidak diminta untuk praktik keseluruhan. Hanya diperlihatkan contoh dan beberapa boleh mencoba membuatnya. Sangat menyenangkan dapat mempunyai tambahan teknik – teknik membuat jerat. Lanjut dengan mempelajari tanaman. Di hari kedua ini kami membuat bivak dari bahan – bahan alami. Tetap masih berkelompok. Posisi Danlas juga sudah diganti ke peserta lainnya. Namanya Sundari. Pergantian kelompok juga ada perubahan untuk danru. Berpindah posisi pada Anita. Huft. Tugasku selesai menjadi komandan. Seru dan aku senang. Pembuatan apiku berhasil dan malam kedua kelompokku dan yang lainnya mempunyai api untuk masing – masing bivak kami. Kulewatkan malam dengan duduk sendiri di depan api. Sementara yang lain tidur karena lelah. Setelah cukup larut malam, baru aku pergi tidur.
Pagi yang cerah. Inilah hari yang paling ditunggu oleh semua peserta. Survival solo. Di sini beberapa barang disita oleh instruktur. Hanya matras, baju hangat, sleeping bag, senter, piring, sendok, pisau, dan P3K yang boleh kami bawa. Sisanya diletakkan di tenda panitia. Setelah mempelajari bagaimana cara mencari air dari akar, pohon pisang, dan juga diperbolehkan untuk mencari akar liana sebagai tali, semua aku dan teman – temanku diberi kesempatan untuk mendirikan tenda. Wahaha…sepertinya Tuhan sedang menguji kami. Hujan turun sangat lebat. Membuat kami harus mempercepat pembuatan bivak. Hm..mencari kayu inilah yang semakin sulit. Kemungkinan api menyala kecil. Tak lama bivak kami sudah jadi. Well, saatnya membuat api. Dengan panah burdi yang diberikan instruktur kucoba untuk membuat bara. Asem, susah. Belum terbiasa dan mencari kunci penggunaannya memakan waktu lama. Sampai akhirnya berhasil keluar asap. Namun, lagi – lagi kekuatan tanganku yang kurang membuat itu gagal. Hingga waktu akhirnya habis. Akhirnya diganti dengan pemantik. Hore nyala. Ditinggal evaluasi, hujan gerimis membuat…hmmmm…apiku mati lagi tanpa bara. Apes. Tidur kedinginan tanpa api dan hujan juga masih turun. Tanpa sadar badanku terus saja dingin. Kugigilkan badanku sekencang mungkin. Menunggu hujan reda. Karena, bivakku bocor. Begitu reda, kuambil jaket dan sleeping. Nasib sial. Hujan turun lagi. Kepala hingga perut tidak bocor. Tapi perut hingga kaki terasa ditetesi air. Aku terus saja menggigil. Berharap punya sesuatu untuk menghangatku. Namun, badanku lemas dan malas sekali untuk kugerakkan. Alhasil, aku hanya berharap malam cepat berganti pagi. Terbayang api di benakku. Tiba – tiba terdengar suara Om Makmur. Instruktur KJSBC bersama Mang Dudi. Rupanya semua bivak bocor. Hingga dilapisi rain coat oleh instruktur. Khawatir terjadi hal yang buruk. “Flo, masih sehat ? Badan kamu basah semua itu..” Aku langsung menceritakan keadaanku yang basah dan kedinginan. Aku disuruh ganti baju. Om Makmur membawaku ke tempat panitia. Disana aku diberi air hangat dan duduk di depan api. Dapat tawaran nasi, kukeluarkan kornetku. Kang Emon menawarkan kornet miliknya. Malam itu tepat jam 3 mungkin. Aku makan nasi dan kornet, minum the panas. Lumayan. Badanku hangat kembali. Paginya, aku kembali ke bivak dan hanya bisa bilang. Wauw. Gak nyangka basah total. Hm..untung gue gak mati. Hahahaha….
Hari terakhir. Hiks. Kami lewati dengan menyeberangi sungai. Seberang basah. Hahahah…hujan masih saja enggan berhenti. Turun lagi. Hoho. Kak Owi menjelaskan cara membungkus carier agar tidak basah dan bisa dijadikan pelampung. Cara bungkusnya dengan ponco diikat dengan tali pramuka. Menyeberangnya sengan mengandalkan tali carnmantel yang diikat di tepi sungai. Menghubungkan satu tepi ke tepi yang lain. Webbing yang kami kenakan sebagai pengaman tubuh kami sambungkan dengan tali carnmantel menggunakan carabiner. Lalu meletakkan badan (sampai perut) di atas carrier, berenang menggunakan tenaga kaki. Aku asyik menikmati seberang basahku. Gaya kaki katak kugunakan. Membuat aku menyeberangi sungai dengan sukses. Hehe…”Wah, kebiasaan renang di pantai ya jelas..,”komentar Om Makmur bercanda. Aku tertawa. Sangat senang, karena semua menyemangatiku. Huhui…..sukses untuk poin ini.
Lanjut materi ular dari Sioux. Salah satu instrukturnya sudah sangat familiar di TV. Tyo JP. Hoho, cukup seru bermain dengan piton, dan melihat cara menangkap king kobra dan kobra. Acara ditutup dengan upacara penutupan. Makan malam bersama.
Banyak keceriaan yang terlukis di sini yang bakal menghabiskan berlembar – lembar jika ditulis semua. Satu hal yang penting. Hidup ini tidak sekedar bertahan. Namun, menemukan pentingnya dari bertahan hidup. Survival tidak hanya berlaku di hutan. Survior juga tidak hanya untuk laki – laki. Bukti nyata bahwasanya emansipasi perempuan juga berlaku di hutan.
Posting Komentar