Rabu, 09 April 2014

OPINI UKHTI FLO TENTANG PEREMPUAN DAN JILBAB





Bukan pemandangan baru lagi bahwasanya masih banyak perempuan – perempuan yang mengaku beragama Islam tetapi tidak berjilbab. Jangankan jilbab dengan model lebar dan juga berbentuk cadar. Perempuan Islam berkerudung itu pun jarang. Namun, di keseharian mereka masih tetap shalat, puasa, zakat, infaq, merayakan idul adha dan juga idul fitri. Banyak kegiatan lainnya yang tetap mereka ikuti. Dan mereka tetap disebut sebagai Muslimah. Dengan melaksanakan kegiatan tersebut selalu ada pahala juga untuk mereka. Jadi, apakah sebenarnya jilbab itu wajib..??? Jika tanpa jilbab masih mendapatkan pahala.
Mari kita ulas alasan kenapa orang tidak mengenakan jilbab. Mereka yang merasa imannya belum sempurna mayoritas malu jika berjilbab. Pandangan yang seolah – olah mengagungkan posisi jilbab. Karena banyak yang berargumen dengan berjilbab berarti kamu membawa agamamu setiap detiknya. Jika dikatakan demikian, tidakkah mereka lupa…?? Bahwasanya dalam perkataan juga harus menjunjung agama. Shalat juga membawa agama. Puasa juga membawa agama. Kenapa membedakan jilbab dengan kewajiban melaksanakan rukun Islam…???
Hal kedua yang menjadi alasan adalah belum mendapat hidayah untuk mengenakan jilbab. Hidayah diartikan oleh masyarakat luas sebagai petunjuk[1]. Ada juga yang mengartikan bahwasanya hidayah itu adalah petunjuk atau bimbingan yang diberikan oleh Tuhan[2]. Berdasarkan dua definisi di atas mari kita buat contoh sederhana. Jika Anda hendak pergi ke kota Surabaya untuk pertamakalinya dalam hidup Anda, apa yang Anda butuhkan…??? Pasti petunjuk. Bagaimana cara Anda memperoleh petunjuk..?? Apakah hanya diam…?? Diam di rumah menunggu seseorang memberitahukan Anda tentang petunjuk pergi ke Surabaya. Tentu Anda akan bertanya. Entah dalam konteks kalimat pertanyaan langsung atau pun lewat cerita yang bersifat curhat. “Kalau mau ke Surabaya naik apa ya..??”, “Harga tiketnya berapa untuk ke sana..?”, bisa juga “Aku bingung nih mau ke Surabaya, nggak tahu caranya kesana.” Atau tanpa interaksi dengan orang, Anda bisa membuka informasi di internet. Pada intinya Anda yang menjemput atau datang kepada petunjuk itu bukan..?? Sama seperti hidayah. Gamabaran tadi jika kita kembalikan pada pembahasan ini, Surabaya itu adalah hidayah[3]. Sedangkan mengenakan jilbab itu adalah mencari informasi rute ke Surabaya. Bila Anda hanya tetap diam tanpa melatih diri Anda untuk mengenakan jilbab, akankah Anda tahu bahwasanya diri Anda telah siap untuk menjemput hidayah..?? Hidayah itu ibarat kota yang tidak akab berlari kea rah kita jika kita hanya diam. Tidak pula berlari menjauh jika kita berjalan mendekat. Masihkah Anda menunggu hidayah..??
Alasan ketiga. Aduuh. Saya malu karena berada di lingkungan yang notabene non muslim. Saya takut tidak akan mendapat teman. Pemikiran ini sebaiknya dihapus. Bagaimana bisa Anda malu dengan manusia tapi Anda tidak malu pada pencipta Anda. Bagaimana mungkin Anda berfikir bahwasanya takut kehilangan teman yang notabene sama – sama manusia tapi Anda tidak takut kehilangan Allah. Jangan pernah malu membawa Islam dalam keseharian Anda. Untuk sholat saja tidak malu. Kenapa berjilbab malu..???
Alasan keempat. Waduh, tempat saya kerja tidak diperbolehkan memakai jilbab. Bahkan diharuskan untuk mengenakan rok di atas lutut dengan ukuran yang ketat. Mencari penghasilan guna bertahan di kehidupan memang penting. Tapi, tidakkah Anda ingat bahwasanya rejeki itu yang mengatur Allah. Walau rejeki mengalir deras tapi cara kita tidak di ridhai Allah apakah akan mampu menyelamatkan kita kelak..??Pikirkan sekali lagi.
Alasan kelima, walah. Jilbab itu kan sebuah budaya. Lha wong di Arab cuacanya memang sangat ekstrim. Jika siang sangat panas, jika malam sangat dingin. Kalau di Indonesia kan tidak. Lagipula, di dalam ajaran Islam pun kita diperbolehkan mengikuti budaya masyarakat dimana kita tinggal. Agama memang termasuk dalam kebudayaan. Sah – sah saja. Tapi, jika Anda diminta untuk mentaati aturan yang dibuat oleh teman sejawat Anda dengan aturan yang dibuat oleh atasan Anda yang sudah jelas dari atasanlah Anda mendapat gaji ataupun sanksi, mana yang Anda pilih. Untuk mengambil posisi aman pasti Anda menataati atasan. Begitu juga dengan ini. Budaya yang Anda jadikan alasan itu buatan manusia. Sedangkan hal ini sudah menjadikan ketentuan dati Allah langsung. Masihkan memilih budaya yang dibuat manusia..??
Masih banyak alasan – alasan lainnya yang pasti tidak akan tuntas dikupas dalam tulisan ini. Namun, berangkat dari pernyataan “Sebenarnya jilbab itu wajib nggak sih..??” mari kita tinjau apa saja manfaat dan sisi positif dari mengenakan jilbab.
Pertama, dengan jilbab hidup wanita jauh lebih merdeka. Dalam artian, jilbab pasti akan membuat kita menggunakan pakaian yang serba tertutup. Bandingkan dengan mereka yang suka menggunakan pakaian serba minim. Contohnya rok mini. Pasti untuk duduk harus hati – hati kalau nggak pengen dalemannya kelihatan. Iya bukan…??? Kalau para muslimah yang berjilbab, mau duduk ya tinggal duduk aja. Nggak usah ribet – ribet memikirkan bagaimana posisi duduk yang nyaman.
Kedua, pakaian tertutup oleh jilbabers neh nggak akan dech mengundang pelecehan sosial berupa suitan dari cowok – cowok di pinggir jalan, nggak ada yang akan iseng untuk mencolek tubuh kita. Apanya yang mau dicolek…semuanya ditutup.
Ketiga, bagi wanita yang menutup auratnya dengan berjilbab, bukan berarti dia menyembunyikan inner beauty yang dia miliki. Justru malah membuatnya semakin terpancar. Bagian tubuh akan semakin bersih. Wajah pun jadi terlihat lebih enak dipandang. Jadi lebih bersih. Percaya atau tidak, ini penulis alami sendiri setelah mengenakan jilbab.
Keempat, jilbab itu dapat menjadi rem bagi kita ketika keinginan untuk berbuat negative, secara otomatis dia yang akan mengerem perilaku kita. Jilbab secara perlahan namun pasti menumbuhkan jiwa feminim seorang wanita. Inipun penulis alami sendiri. Walau tidak seratus persen.


[1] Kamus Ilmiah Populer
[2] Kamus Besar bahasa Indonesia
[3] Hanya salah satu syaratnya.
Posting Komentar