Senin, 07 April 2014

CERPEN SEDERHANA



ISENG BERBUAH PETAKA

            Siang itu jam pelajaran terakhir tidak ada yang mengajar. Kebetulan sekali para guru sedang mengadakan rapat dinas. Semua murid kelas 6 asyik bercanda satu sama lain. Salah satu dari mereka, Andi namanya. Dia tampak asyik menggambar sesuatu di selembar sobekan kertas yang ia robek dari bukunya. Setelah itu dia berlari keluar kelas. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan jangka di tangan kanan dan sebuah boneka yang kepalanya terbuat dari batok kelapa yang berukuran kecil.
            “Andi…kamu mau ngapain bawa – bawa benda aneh itu ?”tanya Sindi.
            “Hehehehe….,”Andi tertawa,ia berjalan kembali ke bangkunya,”Alex, Dion, Eka, Candra…”
            Empat anak itu pun datang mendekat.
            “Ayo kita bermain permainan yang seru…!!!!”
            “Permainan apa ?”tanya Candra penasaran.
            “Jailangkung…”ucap Andi.
            “Ah…itu hanyalah tahayul. Nggak nyata itu…”ucap Alex mencibir.
            “Memangnya kamu sudah pernah coba?”tanya Eka.
            Alex hanya menggeleng.
            “Sudahlah…ayo kita coba. Biar kita tahu, sebenarnya benar atau enggak yang namanya jailangkung itu…”
            “Boleh…siapa takut…”ucap Dion.
            “Kalian mau ngapain ?”tanya Sindi. Ia datang mendekat,”Ya ampun…jangan aneh – aneh. Jailangkung itu bukan sembarangan. Jangan buat main – main. Kalau arwahnya beneran dateng, siapa yang mau tanggung jawab jika terjadi sesuatu ?”
            “Udahlah….kamu ini cerewet banget jadi cewek…sana main sama cewek yang lain. Jangan ganggu kami…”sentak Andi.
            “Terserah kalian…”Sindi berlalu keluar kelas dengan tampang yang kesal.
            Alex, Dion, Eka, Candra, dan juga Andi mengambil posisi duduk melingkar di kelas bagian paling belakang. Kelima anak itu memegang boneka yang sudah di letakkan di atas coretan kertas bertuliskan huruf dan angka. Bersama – sama mereka menyanyikan mantranya.
            “Jailangkung….jailangkung…di sini ada pesta…pesta kecil – kecilan…datang nggak dijemput…pulang nggak diantar…”
            Seperti itu mereka lakukan berulang – ulang. Namun tidak ada tanda – tanda kemunculan makhluk halus. Boneka tetap diam tidak bergerak.
            “Ibu Ana dataaaaaaaanggg….!!!!!”teriak Sindi heboh. Mengagetkan mereka berlima. Serentak mereka langsung kembali ke tempat duduk masing – masing. Tak lupa Andi menyimpan boneka itu ke dalam laci mejanya.
            “Baik anak – anak…silahkan buka buku pelajaran kalian…kita lanjutkan pelajaran minggu lalu,”ucap Bu Ana begitu memasuki kelas.
            Pelajaran berlangsung lancar. Semua siswa mengikuti pelajaran dengan baik. Termasuk kelima anak bandel itu.
            “AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRGGGGGGGHHHHHH…….!!!!!!!!!!!”tiba –tiba Sindi teriak ketakutan. Tangannya tak henti – hentinya menunjuk ke arah Andi. Mukanya pucat pasi. Seisi kelas dibuat bingung dengan sikap Sindi yang aneh. Andi yang sedari tadi ditunjuk hanya memandang Sindi dengan tatapan heran.
            “Sindi….Sindi…!!!!!!!”panggil Bu Ana mencoba untuk menenangkan.
            “Ada apa ini ?”tiba – tiba datang kepala sekolah. Beliau merasa terganggu dengan teriakan Sindi yang lantang sekali. Begitu melihat ke arah Andi, kepala sekolah langsung mendekati Sindi. Namun baru beberapa langkah, Sindi sudah tak sadarkan diri.
            Semua kelas langsung panik. Spontan Bu Ana memanggil pesuruh sekolah untuk membopong Sindi ke UKS.
            Beberapa menit kemudian, Kepala Sekolah masuk kembali ke dalam kelas,“Siapa yang tadi bermain jailangkung di sini?”tanya kepala sekolah.
            Semuanya diam tidak mengaku.
            “Andi…!!!!!!!!!!”panggil beliau.
            “Saya tidak Bu…”sanggah Andi.
            “Saya tahu, kamu yang bermain bersama anak yang lain. Keluarkan boneka itu. Atau kamu saya hukum…!!!”
            Terpaksa Andi menyerahkan boneka itu. Dengan cekatan Kepala Sekolah membawanya keluar kelas dan membakarnya setelah mengucapkan beberapa doa. Setelah selesai membakar itu, beliau masuk ke kelas.
            “Anak – anak…saya harap jangan sampai ada yang bermain jailangkung lagi. Itu bukan permainan. Apa yang dilakukan teman kalian tadi sudah mengundang arwah ke sini. Dia berdiri tepat di samping Andi. Kebetulan hanya Sindi yang bisa melihat. Untung tidak terjadi apa – apa. Hanya syok saja. Bagaimana kalau sampai ada yang kesurupan ?”
            Andi yang mendengar itu langsung berlari meninggalkan mejanya.
            “Sudah…dia sudah pergi. Ibu pastikan dia tidak akan kembali…Jadikan ini sebagai pelajaran. Jangan sembarangan kalau bermain sesuatu. Lihat resikonya. Sudah….pelajaran boleh dilanjutkan kembali…”
           

Posting Komentar