Jumat, 15 November 2013

ASPIRASI SASTRA BALI, SAATNYA UNTUK BERSUARA

SELAMAT PAGI KAWAN.....!!!!
Hari ini tulisan saya berkaitan erat dengan aspirasi perjuangan mahasiswa...kami yang berdiam di pulau dewata...mencoba merangkak untuk mencari keadilan dan juga mengorak abrik kebenaran di balik kebenaran.......tulisan ini memang bukan tulisan saya sendiri... tapi ini adalah tulisan dari salah satu abang saya...semoga menginspirasi dan membuka mata hati anda wahai para pejuang...!!!!



SUARA  PELOPOR  MAHASISWA  SASTRA
BUKAN HANYA MANUSIA, KAMPUS SASTRA JUGA PUNYA KOTORAN SISA-SISA METABOLISME..!!!
Sungguh sangat menyedihkan rasanya, ketika pagi hari datang ke kampus sastra dan budaya untuk menjalankan rutinitas kuliah, mahasiswa sudah langsung dipusingkan dengan mencari tempat parkir kendaraannya. Entah disengaja atau tidak, tampaknya dalam hal ini birokrasi kampus sengaja mendiamkan keadaan ini. Sangat membingungkan, padahal kalau boleh diamati lebih dalam, yang menggunakan fasilitas parkir ini bukan hanya mahasiswa saja, melainkan juga para dosen, pihak administrasi kampus dan juga tentunya bapak dekan sendiri sebagai pimpinan tertinggi dikampus Sastra dan Budaya Universitas Udayana ini. Mahasiswa sastra dan budaya sendiri sebenarnya sangat resah dengan kondisi seperti ini, namun entah kenapa, sepertinya ada keengganan mahasiswa untuk menyuarakan permasalahan ini yang akhirnya semakin memperparah keadaan ini seperti menahan mengeluarkan kotoran dari hasil metabolisme tubuhnya, sungguh sangat tidak enak menahan buang air besar.
Kalo melihat lebih kedalam kampus sastra dan budaya ini, sebenarnya, saat ini civitas kampus kuning Fakultas Sastra dan Budaya Unud telah mendapat ruang atau lahan baru untuk memarkirkan kendaraannya yang mayoritas sepeda motor. Apalagi kalau bukan areal bekas gedung C (gedung barat) Kampus Sastra dan Budaya yang saat ini telah menjadi puing. Sebenarnya, bila memang pihak fakultas tanggap dalam mengamati keadaan, seharusnya sudah dari awal bulan November lalu areal puing ini bisa dijadikan lahan parkir yang luas melebihi parkir barat dan timur bila digabung sekalipun. Sayangnya, entah dimana permasalahannya, pihak kampus dirasa enggan untuk megusir kotoran-kotoran kampus, enggan untuk membersihkan kotoran-kotoran kampus (puing-puing, red.-) yang merusak pemandangan dan membuat mual warga Kampus Sastra dan Budaya kita.
Saat ini, penghuni parkiran dalam ruangan barat dan timur di dominasi oleh kendaraan sepeda motor milik mahasiswa, walaupun ada banyak juga dosen-dosen dan pihak administrasi kampus yang memarkirkan sepeda motornya di ruang parkir barat dan timur. Penghuni area parkiran halaman kampus sastra atau ruang diantara kolam ikan cupang dan pintu keluar-masuk Kampus Sastra dihuni oleh para civitas kampus sastra yang menggunakan mobil yang tentunya mobil dinas pak Dekan juga diparkir disitu.
Diluar, yaitu di Jalan Raya Pulau Nias tempat dimana terpampang gapura atau logo dan nama baru Kampus Sastra dan Budaya Unud juga menjadi lahan parkir yang sebenarnya sangat mengganggu lalu-lintas kendaraan lainnya yang menimbulkan kemacetan dan pastinya menutupi gapura atau logo dan nama baru yang baru dibuat tersebut, apa gunanya merogoh dalam-dalam kantong hanya untuk membangnun sebuah bangunan atau simbol-simbol yang tidak bisa dilihat oleh orang lain karena tertutupi mobil-mobil yang parkir menghalangi.
Entah mengapa, padahal kampus adalah sarang intelektual, tempat bertebarannya ilmu pengetahuan, fungsi kampus juga sebagai tempat memberi dan menerima ilmu, tapi kenapa dalam hal menertibkan parkir kendaraan saja tidak mampu? Atau karena ini adalah Fakultas Sastra dan Budaya,bukan fakultas administrasi dan penertiban parkir, sehingga civitas yang ada didalamnya tidak mampu menangani masalah sepele ini..!!
Ada pertanyaan kecil yang membelenggu di kepala ini, mengapa bapak Dekan tidak segera mengerahkan para pegawainya untuk segera membuat dan menerjunkan tim khusus untuk memberangus para koruptor, teroris, atau kaum sparatis?? Ups..,, itu ma KPK, Densus dan Kopasus…!! Maaf, maksudnya, kenapa Bapak Dekan tidak membuat tim khusus untuk membersihkan kotoran-kotoran kampus ini. Kompak misalnya, “Komando Pembersihan Kotoran Kampus”. Yang tersusun dari pihak-pihak birokrasi kampus yang berkepentingan. -Sekalian mengusulkan gagasan, biar tidak terkesan hanya melontarkan isu tanpa solusi-, atau mungkin bapak Dekan bisa membuat seperti “Car Free Day” nya Bapak Jokowi atau Bapak Mangku Pastika. Mungkin biar terlihat keren bisa dinamakan “Clean Day”, semacam Jumat Kerja Bakti, atau Sabtu Kerja Bakti, sambil bersih-bersih kampus kita bisa bersilaturahmi dengan civitas kampus kuning, kerja-bakti, gotong-royong dan olahraga bersama, bukankah itu merupakan falsafah bangsa kita yang gotong-royong Pancasilais, mudah-mudahan Bapak Dekan belum lupa dengan Pancasila, mungkin masalah puing akan sedikit teratasi. Mungkin dengan cara itu, kita bisa memanfaatkan tenaga, waktu dan tentunya menghemat tenaga, bila mana Fakultas Satra tidak punya dana untuk menyuruh orang atau kontraktor membersihkan puing-puing tersebut.
Satu lagi pertanyaan kecil yang sebenarnya malu untuk diutarakan. Sedang sibuk apa Senat Mahasiswa Fakultas Sastra kita ini?? Sepertinya bukanlah sebuah penghalang, hidup dalam ruang kotak kecil yang sumpek dan kurang rapih sehingga SMFS yang jaketnya mentereng lupa akan situasi kampus. SMFS bukan Event Organiser (kebarat-baratan) kalau tidak mau dibilang Pengumpul/Pengorganisiran Mencari dan Membuat Acara yang jauh panggang dari api. Apalagi kalau sampai buat acara untuk mencari dana apalagi membuat acara penggalangan dana, itu namanya jauh panggang bingung cari api..!! SMFS harus kritis, peka dan paham situasi mahasiswa dan kampusnya. Bukankah yang menikmati parkiran motor diseluruh area parkir kampus sastra ini juga SMFS. Coba pikirkan, kalau SMFS buat acara, pasti menyita lahan parkir, tapi sayangnya SMFS tidak pernah memberi solusi tempat parkir sementara atau “relokasi parkir sementara” mengambil istilah bapak Jokowi. Kalaupun ada, solusinya adalah dengan memarkirkan kendaraan dirumah masing-masing mahasiswa, alias mahasiswa tidak diperbolehkan bawa sepeda motor, itupun hanya satu tahun sekali disaat Ospek atau Inisiasi Fakultas dan hanya berani diwajibkan untuk mahasiswa baru, apa namanya kalau bukan perpeloncoan?? Ayolah,, kita menunggu gerakan teman-teman SMFS untuk membuat gerakan perubahan yang menjadikan manusia sebagai manusia dan berpikir layaknya manusia, bukan lagi robot yang siap diperintah. Bila bingung bagaimana caranya menjadi wadah mahasiswa yang baik dan berpikiran kritis, bersama-sama saja bergerak dengan bapak Dekan dengan birokrasinya membuat acara seperti yang sudah disebutkan diatas. Acara ini tidak menyita banyak waktu, tenaga dan biaya kok, sehingga teman-teman SMFS tidak perlu takut kehilangan tenaga, waktu dan biayanya untuk membuat jaket walau sebenarnya biaya itu semua berasal dari mahasiswa. Kalau mau diberi jempol, jadilah pelopor, buat saja kegiatan yang telah disebut tadi tanpa mengusik-usik Bapak Dekan dan birokrasinya yang katanya sibuk..!! katanya sibuk..!! teman-teman SMFS jangan sampai lupa dengan rakyatnya dan malah terbuai dengan agendanya yang memanfaatkan mahasiswa tanpa memberi sumbangan falsafah yang benar.
Dan andai saja bapak Dekan dan pihak birokrasi kampus mau berbesar hati untuk sedikit sabar dan menahan kesombongannya, dengan menunda penggunaan dana untuk pembangunan gapura dan logo baru kampus dan dialihkan untuk pendanaan pembersihan kotoran kampus (puing-puing kampus), maka akan tercipta lahan parkir baru yang dapat mencetak senyum-senyum segar mahasiswa dan para ibu dosen yang cantik dan ramah yang membuat semangat mahasiswa menjadi membara, tentu juga bapak dekan dapat tersenyum bahagia karena para tamu undangan Fakultas Sastra dan Budaya yang bukan orang-orang sembarangan dapat terfasilitasi parkirnya sehingga memberikan kebanggan terhadap Fakultas Sastra dan Budaya. Atau dengan memberikan bantuan dana kepada SMFS untuk membuat acara bersih-bersih kampus, dan tentunya bapak dekan pasti bangga karena dibawah kepemimpinan Bapak saat ini, mahasiswa sastra dan budaya memiliki kemampuan kritis dan kepekaan yang nyata dan tidak menjadikan mahasiswa eksklusif sehingga kami civitas Kampus Kuning dapat tersenyum tanpa menahan rasa sesak menahan buang air besar.

Guna membantu fakultas sastra dan budaya kita menjadi lebih baik, mari kita perbanyak selebaran opini ini sebanyak 10 lembar lalu berikan ke teman-teman kita yang lain..!!
Posting Komentar