Selasa, 13 Agustus 2013

My Reason



أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله

"Dua kalimat syahadat itu kubaca di kost Jimbaran tanpa saksi. Setelah sedikit mempelajari tentang Islam, kutekadkan untuk mencatatnya dalam bukti tertulis. Sekitar Desember 2011. Masjid An-Nuur menjadi saksi biksu kuucapkan dua kalimat syahadat di depan Imam Masjid dan juga para saksi. Di pulau seribu pura kutemukan hidayah karpet hijauku."

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Selalu ada sebab sebelum ada akibat. Banyak pertanyaan sama yang diarahkan padaku ketika memutuskan untuk memeluk agama baruku ini. Seperti "Kenapa pindah agama ?" , "Bagaimana reaksi kedua orangtuamu ?", lalu "Bagaimana sikap mereka sekarang ? Serta bagaimana cara kamu meyakinkan kedua orangtuamu ?"
Lewat tulisan ini, semoga pertanyaan - pertanyaan itu terjawab. Ehem, bukan mau pamer atau gimana. But, aku hanya ingin berbagi pengalamanku saja. Buat keluargaku yang sekiranya masih belum berkenan dengan keputusanku. Semoga suatu saat kalian akan mengerti.

Alasan kenapa aku memilih Islam
Well, bagiku semua agama memang baik. Namun, penentuan kata baik itu sendiri beragam menurut sudut pandang masing - masing orang. Segala pertanyaan tentang esensi Tuhan selalu berakhir pada pertanyaan baru dan pernyataan ambigu (pada agamaku terdahulu). Namun di Islam, kutemukan "SATU TUHAN" yakni hanya "ALLAH". Hal ini bisa dibuktikan dalam surah Al-Ikhlas. Selain itu, asal - usul agama ini menurut saya logis dan runtut. Dari jaman Nabi Muhammad SAW hingga sekarang tidak pernah putus. Ibadahnya pun dapat kita kaji dari berbagai sudut pandang ilmu. Semuanya rasional. Islam itu membuat hati saya tenang. Islam mengajarkanku untuk hidup menjadi lebih baik. Walaupun proses kesananya tidaklah mudah. Banyak batu terjal serta jalan berliku yang harus kutempuh hingga saat ini. 

Bagaimana reaksi kedua orangtuaku serta caraku meyakinkan orangtua 
Saat awal masuk Islam aku masih takut. Tidak pernah kutunjukkan identitas asliku kepada mereka. Sampai akhirnya, perayaan Nyepi tahun 2013 aku mengatakan kepada kedua orangtuaku. Awalnya mereka marah dan kecewa. Pertengkaran dengan Bapak juga terjadi. Namun, aku sudah benar - benar bertekad untuk terus memperjuangkan apa yang sudah aku yakini. Allah Maha Melindungi bagi kaum-Nya yang senantiasa berjuang di jalan-Nya. Ketika kembali ke Bali, aku pun bertekad untuk terus memperjuangkan agamaku. Sempat juga terbersit ketakutan tidak akan memperoleh tunjangan bulanan dari orang rumah. Namun, itu tidak meruntuhkan semangatku untuk mempertahankan Islam. Langsung saja aku mencari kerja part time. Sempat juga merencanakan menggadaikan apa saja yang aku punya.
Tapi Alhamdulillah...masih diberi tunjangan.
Ketika ada kesempatan untuk pulang, kuputuskan untuk pulang. Setelah ngalor ngidul dulu sama teman - teman.
Inilah rasa cinta Allah untuk kaum-Nya yang berusaha untuk memperbaiki diri. Maha besar Allah yang membuat kedua orangtuaku menerimaku selayaknya aku yang kemarin. Walau berbeda agama, namun mereka tetap memperlakukanku sebagai anaknya.

Aku ingat betul saat harus terpaksa bohong karena mau tarawih waktu di rumah Blitar. Bilang ke warnet, nongkrong. Apapun alasannya yang penting bisa tarawih. Pura - pura ganti baju biar bisa kunci pintu kamar untuk melaksanakan shalat.

Saat di Bali juga harus pontang - panting cari guru yang mempunyai waktu untuk mengajar ngaji. Mulai dari Ustadz di Ubung, di Nusa Dua, dan akhirnya kutemukan di Denpasar. Graha Muallaf Foundation.
Itulah teman - teman. Sekilas tentang pertanyaan kalian. Mungkin ini hanyalah sebutir pasir di gurun. Hanyalah setetes air di samudra. Tapi, semoga memberikan motivasi bagi kalian. Bahwasanya memperjuangkan sesuatu yang kalian anggap benar, jika Allah ridha insya Allah akan terwujud.

Islam itu indah. Islam itu haqqul yakin. Islam itu berserah dan berpasrah. Islam itu JALAN KESELAMATAN.
Posting Komentar