Kamis, 24 Januari 2019

CERITA PENDEK

DIBALIK MUSIBAH ADA BERKAH

Namaku Dita. Saat ini genap usia 26 tahun. Baru saja berhenti kuliah tanpa ijasah dari pulau sebelah. Sebut saja musibah. Singkat cerita, aku berjumpa dengan teman sesama organisasi mahasiswa. Hanya saja kami berbeda domisili. Dia menawariku untuk membantu mengajar di sekolah tempat ia memimpin. PAUD Mawar di Desa Maliran. Berhubung sedang menganggur, aku iyakan saja. Semoga berkah walau dia tidak bisa menjanjikan upah untuk sementara waktu.
Beberapa hari setelah kami sepakat, kegiatan sekolah pun dimulai. Ups. Putar balik dulu. Tepat satu hari sebelum memulai kegiatan sekolah, aku dan temanku ini membersihkan seluruh perlengkapan dan peralatan yang diperlukan. Maklum, katanya sempat vacuum dikarenakan kekurangan tenaga pengajar. Semua dibersihkan dari debu-debu. Data-data yang basah kami jemur di bawah sinar matahari. Pekerjaan yang cukup membuat lelah. Tapi, mengingat wajah calon muridku nanti, semangatku kembali. Jujur, sekolah yang kutempati ini hanyalah sekolah yang memanfaatkan fasilitas rumah warga yang tidak digunakan lagi sebagai hunian. Bangunan desain kuno dengan hampir keseluruhan menggunakan bahan kayu kecuali lantainya, membuat kesederhanaan itu sangat terasa. Sekolah dengan bangunan sederhana dan jauh dari perkotaan membuatku serasa berpetualang di pedalaman. Seperti sekolah alam.
Aku jadi teringat dengan murid-murid kecilku di Bali. Pemukiman dekat bandara Ngurah Rai. Disanalah mereka. Aku sempat menjadi guru relawan beberapa kali di tempat itu. Berkat teman baik yang mengajakku serta untuk meramaikan Rumah Pelangi. Rumah pendidikan tambahan gratis bagi masyarakat pemukiman pinggiran di Kuta, Bali. Aku hanya bisa tersenyum mengingat tingkah mereka.
Hari pertama pun dimulai. Ditengah-tengah semangat tinggiku untuk berangkat mengajar, aku harus mendapat hadiah roda depan sepeda motorku bocor. Di jalanan yang jarang sekali aku lalui, hanya bingung yang kupunya. Beruntung ada polisi yang tengah menertibkan laju kendaraan. Aku pun mencoba mendekat untuk bertanya. Alhamdulillah, jalanan yang macet membuat polisi itu terlalu sibuk. Terpaksa aku harus mencari orang lain. Tapi tenang. Tidak jauh aku menuntun motor, ada ibu-ibu yang bisa kutanyai. Beliau menunjuk arah utara. Katanya tinggal lurus saja nanti ada tambal ban. Kuiyakan sembari menahan jantung yang berdebar. Aku sudah masuk area kabupaten. Semoga kata lurus saja ini benar-benar bukan luruuuuuuuuuuuuuuuus yang jauhnya aku tidak tahu berapa lama lagi untuk sampai.
Dua atau tiga menit kemudian aku sudah berhasil menuntun motorku sampai depan tambal ban. Sembari menunggu selesai, aku duduk istirahat. Masya Allah, setelah sabar menunggu tambalan yang cukup lama, akhirnya aku bisa melanjutkan perjalanan menuju PAUD Mawar. Rasa takut karena terlambat langsung sirna takkala sekolah masih hanya ada guru pengajar dan juga temanku Sang Kepala Sekolah. Hari pertama dibuka dengan sambutan dari Pengawas Sekolah. Entah sangat bahagia atau merasa geli aku tidak tahu. Atau terharu saja. Bermodalkan alas tikar dan meja lipat, hari pertama ini murid PAUD Mawar yang masuk berjumlah 8 anak. Allahu Akbar. Ada yang nangis minta deket sama ibunya. Ada yang ngambek ingin pulang. Ada yang dieeeem banget nggak tahu mau apa. Intinya semua belum siap sekolah. Terlihat gugup dan takut sepertinya. Aku hanya tertawa melihat wajah pucat mereka.
Setelah pembukaan sekolah, pelajaran di hari pertama pun dimulai. Sebagai guru pemula plus amatir ini, aku hanya bertugas sebagai pembantu guru senior. Kebetulan PAUD Mawar ini berlandaskan agama Islam. Jadi, doanya diawali dengan mengucapkan doa secara Islam. Doa yang dibaca adalah basmalah dan juga doa untuk orang tua. Kalau basmalah saya sudah pintar. Tapi, saat baca doa untuk orang tua, saya yang notabene juga termasuk baru dalam Islam, hanya bisa menelan ludah gugup. Sepertinya untuk kali ini giliran saya yang takut. Makulm, saya tidak hafal. Sembari melirik guru senior, pelan-pelan saya ikuti saja. Dalam hati, wah tidak hanya muridnya tapi gurunya juga ikutan belajar. Aku jadi teringat takkala aku sering diam-diam ikut belajar bersama anak-anak Rumah Pelangi berkaitan membaca doa.
Semakin hari semakin hilang kegugupan para murid dan semakin sepi juga yang datang. Di hari pertama yang datang 8 di hari-hari selanjutnya berkurang hingga hanya menyisakan 4 murid. Weleh-weleh. Saat kami mencoba mencari tahu, akhirnya kami pun menyimpulkan bahwa mereka masih anak-anak. Wajar kalau belum paham arti penting sekolah. Tapi, itu tidak mematahkan semangat kami untuk mengajar.
Saat mengajar aku sempat juga mencoba untuk daftar kuliah lagi. Begitu perkuliahan dimulai yang ternyata jadwalnya pagi, terpaksa aku harus berhenti dari mengajar. Murid favoritku juga sudah tidak sekolah lagi beberapa hari sebelum aku berhenti mengajar.
Walau hanya beberapa kali pertemuan, tapi aku bawa bekal pengalaman. Tidak hanya mengajarnya saja. Tapi, aku jadi hapal doa untuk orang tua. Berkat murid-muridku yang lucunya luar biasa, aku tahu rasanya dipanggil Bunda. Anak-anakku yang manis, Bunda juga belajar dari kalian.
Allah itu adil. Allah itu hebat. Dibalik pahitnya musibah. Masih saja Ia memberiku pelipur hati yang indah.
Ini kisahku. Bagaimana dengan kalian? -flo-

Selasa, 15 Januari 2019

Surat untuk Panglima Perang TNI Pertama di Indonesia

Untukmu Pak Soe...
Aku juga lahir di kota yang sama denganmu
Aku tumbuh di masa yang berbeda denganmu
Tapi, masa akhirmu yang merupakan masa perjuanganmu
Adalah masa masa perenunganku hingga kini
Kata kawanku di luar sana
Masa gentingmu itu masa romantisame kawula muda
Tapi bagiku tidak
Ini hari dukaku
Karena aku tahu, pada tanggal itu kau harus membayar atas keberanianmu demi negara ini
Karena aku tahu, keluargamu harus merelakanmu
Karena aku tahu, Indonesia kehilanganmu
Tenang Pak Soe...
Aku juga ingat semua pasukanmu
Aku pun bersedih
Pak Soe....
Blitar, aku, dan kau dari sini terjalin satu cerita
Cerita tanpa dimulai dan entah bagaimana bisa berkembang
Aku hanya merasakannya saja
Maaf Pak Soe...
Tidak bermaksud bermelankolia
Baret unguku juga tidak mengajarkan aku cengeng dan berdramatisasi bak telenovela
Aku hanya merasa demikian

Pak Soe...
Kulanjutkan perjuanganmu meski tak mungkin melampaui perjuanganmu

NKRI Dirgahayu

Sekian

Kamis, 10 Januari 2019

PUISI SINGKAT TANPA JUDUL

Dengan ini aku merasa tenang
Dengan ini aku tenang
Bernafas
Berdiam
Merenung

Melihatmu aku merasa tenang
Melihatmu aku tenang
Berdiam
Merenung
Membisu

Mendengarmu aku merasa tenang
Mendengarmu aku tenang
Merenung
Membisu
Tenang

Adamu, diammu, ucapmu
Aku tenang
Bernafas
Berdiam
Merenung
Membisu
Aku tenang

Rabu, 09 Januari 2019

SAJAK SINGKAT


Akupun masih tersadar,
dalam buai romantika surya
Kucoba bersandar,
pada ruang kata berlogika
Rapuh, lemah, dan tak bernyawa,
redup dan gelap tanpa suara
Hening itu indah, katanya
Nyatanya pilu belaka
Padanya dan padamu pemeluk jiwa,
akankah bertahan lama?
Bila senja enggan tiba,
pada semesta tanpa rona jingga
akankah tercipta hampa semesta?
Aku masih tersadar dan bersandar,
tapi elegi telah berlalu dalam bisu
Ketika surya pada peraduannya,
memeluk jiwa dengan rona jingga

Blitar,08/01/2019

Senin, 07 Januari 2019

CARA BERPROSES = HASIL

Selamat siang guys...dimanapun kalian membenarkannya. Kemarin, ditengah - tengah rasa lelah kucoba cari hiburan tanpa keluar rumah. Cari tontonan video di youtube. Ketemulah dengan siaran ulang tentang "Napak Tilas Perjuangan Jendral Soedirman yang dilakukan oleh Candhradimuka". Yup, mereka adalah para prajurit TNI Indonesia. Tepatnya TNI AD.

Pemutaran filmnya sangat bagus guys. Aku yang notabene juga sedang menempuh pendidikan semi militer di Resimen Mahasiswa kotaku juga sedikit tahu kegiatannya.

Perjalanan menapak tilas itu cukup berat guys. Dimulai dengan menyusuri tanjakan sejauh 6km. Waw. Kata prajurit yang melaksanakannya tanjakan itu adalah tanjakan terpanjang sepanjang perjalanannya dia di dunia militer.

Sungguh berat tapi aku juga ikut terharu takkala momen menaburkan bunga di atas pusara Jendral Soedirman dan memberikan penghormatan serta menyentuh pusaranya. Serasa aku ikut disana.

Momen indah adalah saat masih bisa menyempatkan untuk melaksanakan kegiatan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing - masing. Sungguh perbedaan itu terlihat satu tanpa harus dileburkan.

Momen lucu dan membuatku tertawa adalah momen dimana ada salah satu siswa SD yang diminta berpura - pura menjadi tentara yang memimpin yel. Helm dan copel dikenakan pada siswa SD itu. Luar biasa. Suaranya menggelegar seperti tentara betulan. Bangga lihatnya. Semoga selalu semangat ya...!!!

Proses itu benar benar menyimpulkan ini di benakku guys.

Sesuatu yang biasa akan dilalui secara biasa hasilnya sudah pasti biasa.
Sesuatu yang luar biasa akan dilalui secara luar biasa bahkan serasa mau binasa tapi hasilnya tidak hanya luar biasa tapi istimewa.

Bangga padamu Pak Dirman.
Semangat terus para prajurit Indonesia.
I love you.

Jumat, 04 Januari 2019

INSPIRASIKU

Tuhan tidak menciptakan kita untuk dapat mewujudkan banyak mimpi sekaligus. Tuhan menakdirkan kita untuk menciptakan mimpi - mimpi satu per satu.

Tapi jangan berlega hati

Tidak hanya itu

Tuhan juga akan terlebih dahulu mengajarkan sakitnya saat mendapati mimpi masih hanya jadi bunga tidur walaupun saat mata terbuka telah kita coba tuk semaikan

Terkadang Tuhan pun tidak beri kita kesempatan untuk melihat mimpi. Hanya gelap dan gelap.

Tak jarang pula Tuhan hanya biarkan sakit itu meluap lewat tetes air mata

Sakit dan pahit yang berujung luka

Tapi tenanglah dan ingatlah ini untuk buatmu kembali bangkit dan berjuang sampai akhir

SAKIT KARENA PERJUANGAN ADALAH LUKA SEMENTARA. TAPI, JIKA MENYERAH LUKA ITU AKAN MENJADI SELAMANYA.

inspired by TNI AD

Selasa, 23 Oktober 2018

PUISI SEDERHANA

ORANG HITAM
FLO

Bersajaklah untukku wahai sang fulan
Inginku terus bersuara
Lantunkan kalimat renungan
Antarkan jiwa menuju pemilik cahaya
Luapkan segala, letakkan sang nyaman

Bisikkanlah aku sang perindu
Impian - impian kehidupan sarat makna
Noda merah di atas putih tanpa kelabu

Resah aku melihatmu
Apakah gerangan risau aku mendengarmu
Berlembut hatilah padaku
Air mata ini tak pernah habis untukmu
Hening ini pun hanya untukmu

Blitar, 23 - 10 - 2018